Sederajat Dengan Suami
Wanita harus menduduki tempat
yang dimaksudkan Allah baginya sejak semula, sederajat dengan suaminya. Dunia
memerlukan ibu-ibu yang benar-benar ibu, bukan hanya nama saja melainkan dalam
arti yang sebenarnya dari perkataan itu. Tidak salah kalau kita berkata bahwa
tugas-tugas yang menandai wanita adalah lebih suci, lebih kudus, daripada
tugas-tugas pria. Biarlah wanita itu menyadari tentang kesucian pekerjaannya
dan di dalam kekuatan dan takut akan Tuhan melakukan tugas seumur hidupnya.
Biarlah dia mendidik anak-anaknya supaya berguna di dalam dunia yang lebih
baik. 1
Seharusnyalah seorang istri dan
ibu tidak mengorbankan kekuatannya serta membiarkan segala kuasanya
terbengkalai, dan hanya bersandar seluruhnya kepada suaminya. Kepribadiannya
tidak boleh berbaur dalam kepribadian suaminya. Dia harus merasa bahwa ia
sederajat dengan suaminya, berdiri di sisinya, ia sendiri setia kepada tugas
yang ditentukan baginya dan suaminya pada tempatnya juga. Pekerjaannya mendidik
anak-anaknya dalam arti yang sebenarnya ialah meninggikan dan mengagungkan
kedudukan yang sebenarnya sebagai mana suaminya dipanggil untuk tugas ini,
bahkan hal itu sebagai kepala pengadilan bangsa sekalipun. 2
Permaisuri Rumah Tangga
Raja di atas takhtanya tidak
mempunyai pekerjaan yang lebih tinggi daripada tugas seorang ibu. Ibu itulah
permaisuri rumah tangganya. Di dalam kuasanyalah pembentukan tabiat
anak-anaknya, agar mereka boleh layak untuk hidup yang lebih tinggi dan kekal.
Seorang malaikat tidak dapat meminta suatu tugas yang lebih tinggi; karena
dalam melakukan pekerjaan ini ia sedang melaksanakan pekerjaan Allah. Biarlah
ia menyadari betapa tinggi nilai tabiat tugasnya, maka keinsafan itu akan
mengilhami dia dengan keberanian hati. Biarlah ia menyadari nilai pekerjaannya
lalu memakaikan segenap perlengkapan Allah, agar boleh ia melawan penggodaan
hendak menyesuaikan diri kepada ukuran dunia ini. Pekerjaannya ialah untuk masa
dan kekekalan. 3
Ibu itulah permaisuri rumah
tangga dan anak-anak itulah rakyatnya. Ia harus memerintahkan rumah tangganya
dengan bijaksana, dalam derajat keibuannya. Pengaruhnya dalam rumah tangga
haruslah di atas segala-galanya; perkataannya menjadi undang-undang. Kalau ia
seorang Kristen, di bawah perintah Allah, ia akan memperoleh hormat dari
anak-anaknya. 4
Anak-anak haruslah diajar
sedemikian rupa agar memandang ibunya, bukan seperti seorang hamba yang
pekerjaannya untuk melayani mereka, melainkan seperti seorang ratu yang harus
memimpin dan menuntun mereka, mengajar mereka syarat demi syarat dan peraturan
demi peraturan. 5
Suatu Perbandingan Nilai yang Nyata
Jarang sekali seorang ibu
menghargakan pekerjaannya sendiri dan seringkali menentukan taksiran yang
begitu rendah terhadap pekerjaannya sehingga dianggapnya pekerjaan itu sebagai
suatu urusan rumah tangga yang membosankan. Ia melakukan pekerjaan yang serupa
selalu setiap hari, tiap-tiap minggu, dengan tidak ada hasil-hasil yang
istimewa. Dia tidak dapat berkata pada akhir setiap hari tentang
perkara-perkara kecil yang dilaksanakannya. Dibandingkan dengan kemajuan yang
diperoleh suaminya, ia merasa telah melakukan sesuatu hal yang tidak pantas
disebutkan.
Bapa seringkali pulang ke rumah
dengan suasana perasaan puas dan dengan bangga menceritakan apa yang telah
dilaksanakannya sepanjang hari. Ucapannya itu menunjukkan bahwa sekarang ia
harus dilayani oleh ibu, karena ibu sendiri belum melakukan banyak hal kecuali
mengurus anak-anak, memasak makanan, dan membereskan rumah. Ia belum bertindak
sebagai seorang saudagar, berjual beli; ia belum bertindak sebagai seorang
petani, mengerjakan tanah; belum juga ia bertindak sebagai montir, oleh sebab
itu ia belum melakukan sesuatu yang membuatnya lelah. Bapa mengkritik dan
mencela serta mendikte seolah-olah ialah Tuhan alam semesta. Maka hal inilah
semuanya yang menyusahkan kepada istri dan ibu, sehingga ia telah menjadi
sangat penat pada kedudukannya sepanjang hari, namun ia tidak dapat melihat apa
yang telah dikerjakannya dan sungguh-sungguh iapun merasa kecil hati.
Sekiranya tirai penghalang dapat
dibukakan dan bapa serta ibu dapat melihat seperti Allah melihat pekerjaan
sepanjang hari itu, dan melihat bagaimana mataNya yang maha tahu itu
membandingkan pekerjaan seorang dengan pekerjaan yang lain, mereka sudah pasti
tercengang pada pernyataan sorga itu. Bapa akan melihat pekerjaannya dalam
terang yang lebih sederhana, sedang ibu akan memperoleh keberanian hati dan
tenaga yang baru untuk meneruskan pekerjaannya dengan hikmat, kesabaran, dan
ketetapan hati. Ketika bapa mengurus segala perkara yang harus binasa dan
berlalu, ibu telah mengurus perkembangan pikiran dan tabiat, bekerja bukan saja
untuk kepentingan masa sekarang melainkan untuk masa yang kekal. 6
Allah Telah Menentukan Pekerjaannya
Coba kalau setiap ibu dapat
menyadari betapa besar tanggung jawabnya dan kewajibannya dan betapa besarnya
kelak pahala atas kesetiannya. 7
Ibu yang gembira melaksanakan
segala kewajiban yang secara langsung dibentangkan di hadapannya akan merasa
gembira bahwa hidup itu indah kepadanya, karena Allah telah memberikan
kepadanya suatu pekerjaan untuk dilakukan. Dalam pekerjaan ini tidak perlu ia
mengkerdilkan pikirannya ataupun membiarkan kepintarannya dilumpuhkan. 8
Allah yang memberi tugas itu
kepada seorang ibu. Untuk membesarkan anak-anaknya dalam pengajaran yang sopan
dan nasihat Tuhan. Cinta dan takut akan Allah harus selamanya dipelihara di
dalam pikiran anak-anak yang masih lembut itu. Apabila telah diperbaiki, mereka
harus diajar supaya mereka merasa bahwa mereka itu dinasihati Allah, yang tidak
senang dengan penipuan, dusta, dan perbuatan yang salah. Dengan demikian
pikiran anak-anak yang masih kecil itu dapat dihubungkan demikian rupa dengan
Allah sehingga segala sesuatu yang mereka lakukan dan katakan adalah untuk
kemuliaanNya; dan di kemudian hari mereka tidak seperti bulu yang ditiup
angin, selalu bimbang di antara
kecenderungan hati dan kewajiban. 9
Menuntun mereka kepada Yesus
bukan hanya ini yang dituntut . . . . Anak-anak itu harus dididik dan diajar
menjadi murid-murid Kristus, “Semoga anak-anak laki kita seperti tanam-tanaman
yang tumbuh menjadi besar pada waktu mudanya; dan anak-anak perempuan kita
seperti tiang-tiang penjuru, yang dipahat untuk bangunan istana!” Pekerjaan
membentuk, menghaluskan, serta mengindahkan ini ialah pekerjaan ibu. Tabiat
anak itu harus dikembangkan. Ibu itu harus mengukir di atas loh batu hati anak
itu pelajaran-pelajaran yang abadi seperti dunia yang kekal itu; dan pasti dia
akan menghadapi murka Tuhan kalau ia melalaikan pekerjaan yang suci ini atau
membiarkan sesuatu untuk menghalanginya . . . . Seorang ibu Kristen mempunyai
pekerjaan yang telah ditentukan oleh Allah, pekerjaan yang tidak boleh
dilalaikan kalau ia berhubungan erat dengan Allah serta dipenuhi dengan RohNya.
10
Tugas Ibu yang Mulia Dan Agung
Ada kesempatan-kesempatan yang
tidak ternilai harganya, kepentingan-kepentingan yang tidak terduga indahnya,
diserahkan kepada tiap-tiap ibu. Segala pekerjaan yang hina dan tidak
berkesudahan, yang telah dipandang wanita sebagai tugas yang memenatkan, haruslah
dipandang sebagai pekerjaan yang mulia dan agung. Ini adalah kesempatan bagi
seorang ibu memberkati dunia dengan pengaruhnya, dan dengan melakukan yang
demikian ia akan membawa kesukaan kepada hatinya sendiri. Ia boleh mengadakan
jalan-jalan lurus bagi kaki anak-anaknya melalui suka dan duka kepada puncak
kemuliaan yang di sorga. Tetapi hanyalah kalau ia berusaha di dalam hidupnya
sendiri mengikuti segala pengajaran Kristus yang ibu itu dapat mengharap untuk
membentuk tabiat anak-anaknya menurut teladan ilahi. 11
Di tengah-tengah segala kesibukan
hidup, tugas ibu yang paling suci ialah terhadap anak-anaknya. Betapa
seringkali kewajiban ini dikesampingkan agar sesuatu pemanjaan hati yang
memikirkan diri sendiri itu diikuti! Kepada para orang tua dipercayakan segala
kepentingan anak-anaknya pada waktu sekarang dan pada waktu yang kekal. Mereka
harus memegang kendali pemerintahan serta memimpin rumah tangganya kepada
kemuliaan Allah. Hukum Allah haruslah menjadi ukuran mereka dan cinta harus
memerintah dalam segala perkara. 12
Tiada Pekerjaan yang Lebih Besar Atau Lebih Suci
Kalau para pria yang sudah kawin
pergi bekerja, meninggalkan istri mereka menjaga anak-anak di rumah, maka istri
dan ibu sedang melakukan pekerjaan yang sama pentingnya dan besarnya seperti
suami dan bapa. Meskipun seorang bekerja di ladang mission, yang lain adalah
seorang missionaris di rumah, yang keluh kesah serta kecemasannya dan
tanggungannya seringkali jauh melampaui keluh kesah dan kecemasan serta
tanggungan suami dan bapa. Pekerjaannya adalah suatu pekerjaan yang tekun dan
penting . . . . Suami dalam ladang mission umumnya boleh menerima penghormatan
daripada manusia, sedang pekerjaan di rumah itu mungkin tidak menerima pujian
apapun dari dunia untuk usahanya. Tetapi kalau ia bekerja untuk kepentingan
keluarganya dengan sebaik-baiknya, berusaha membentuk tabiat mereka sesuai
dengan Teladan Ilahi, maka malaikat pemegang catatan itu menuliskan namanya
sebagai seorang di antara misionaris yang terbesar di dalam dunia. Allah tidak
melihat segala perkara sebagaimana manusia yang fana memandangnya. 13
Ibu itulah wakil Allah untuk
menjadikan Kristen seluruh keluarganya. Ibu harus memberikan contoh tentang
agama Alkitab dalam kehidupannya, menunjukkan bagaimana pengaruh agama itu
harus mengendalikan di dalam kewajiban dan kesenangannya setiap hari, mengajar
anak-anaknya bahwa hanya oleh rakhmat saja mereka dapat diselamatkan, oleh
percaya, yang menjadi karunia Allah. Pengajaran yang tetap ini tentang apakah
artinya Kristus itu bagi kita dan bagi mereka, cintaNya, kebaikanNya,
kemurahanNya yang dinyatakan dalam rencana penebusan yang besar, akan
menjadikan kesan yang suci dan kudus pada hati. 14
Pendidikan anak-anak merupakan
suatu bagian penting dalam rencana Allah untuk menunjukkan kuasa agama Kristen.
Suatu kewajiban yang tekun terletak atas para ibu bapa supaya mengajar
anak-anaknya sedemikian rupa sehingga apabila mereka pergi ke luar ke dalam
dunia, mereka akan berbuat kebaikan dan bukan kejahatan kepada orang-orang
dengan siapa mereka bergaul. 15
Seorang Pengerja Bersama Dengan Pendeta
Pendeta mempunyai jenis
pekerjaannya, dan ibu itupun mempunyai pekerjaannya. Ia harus membawa
anak-anaknya kepada Yesus supaya diberkatiNya. Ibu itu harus menghargai
perkataan Kristus dan mengajarkan perkataan itu kepada anak-anaknya. Sejak
mereka masih bayi ibu harus mendisiplin mereka supaya menyangkal dan menahan
diri, kepada kebiasaan-kebiasaan kebersihan dan peraturan. Ibu dapat
membesarkan anak-anaknya sedemikian rupa sehingga mereka datang dengan hati
yang terbuka dan lemah lembut untuk mendengar perkataan hamba-hamba Allah.
Tuhan memerlukan ibu-ibu yang mempunyai keahlian dalam kehidupan rumah tangga
akan mempergunakan dengan sebaik-baiknya talenta yang diberikan Allah kepadanya
serta memantaskan anak-anak mereka bagi keluarga di sorga.
Tuhan dilayani sama banyaknya, ya
malah lebih banyak oleh pekerjaan dengan setia di rumah daripada dia yang
mengajar sabda itu. Sebagaimana para guru mengajar di sekolah, maka para bapa
dan ibu harus merasa bahwa merekalah pendidik anak-anak mereka. 16
Ruang lingkup kegunaan seorang
ibu Kristen seharusnyalah jangan disempitkan oleh kehidupannya dalam rumah
tangga. Pengaruhnya yang bermanfaat itu hendaknya dikerahkan dalam lingkungan
rumah tangga, boleh dijadikan dan akan dimanfaatkan dalam kegunaan yang
tersebar lebih luas di dalam lingkungan tetangga dan di dalam gereja Allah.
Rumah tangga bukanlah suatu penjara bagi istri dan ibu yang beribadat kepada
Allah. 17
Ia Mempunyai Tugas Hidup
Biarlah seorang ibu menyadari
akan kesucian pekerjaannya dan di dalam kekuatan dan takut akan Allah
menjalankan tugas kehidupannya. Biarlah ia mendidik anak-anaknya untuk kegunaan
dalam dunia ini dan untuk kepantasan bagi dunia akhirat. Kami tujukan nasihat
ini bagi ibu-ibu Kristen. Kami memohon dengan sangat agar kamu merasa
kewajibanmu sebagai ibu-ibu dan supaya kami hidup bukan untuk menyenangkan
untuk diri sendiri, melainkan untuk memuliakan Allah. Kristus tidak
menyenangkan diriNya, melainkan mengambil atas diriNya rupa seorang hamba. 18
Dunia ini dipenuhi dengan
pengaruh-pengaruh yang jahat. Mode dan kebiasaan mempunyai suatu pengaruh yang
kuat mendesak terhadap orang-orang muda. Kalau ibu gagal dalam kewajibannya
untuk mengajar, menuntun, dan mempertahankan, maka anak-anaknya tentu saja akan
menerima yang jahat dan sebaliknya daripada yang baik. Biarlah tiap-tiap ibu
lebih sering kepada Juruselamat dengan doa, “Ya Tuhan, berilah kiranya abdi
Allah, yang Kau utus itu, datang pula kepada kami, apa yang harus kami perbuat
kepada anak yang akan lahir itu?” Biarlah ibu itu mendengar petunjuk yang telah
diberikan Allah dalam sabdaNya. Maka hikmat akan diberikan kepadanya bilamana
dia memerlukannya. 19
Mengukir Suatu Peta yang Sama Seperti Ilahi
Adalah Allah di dalam sorga, maka
terang dan kemuliaan dari takhtaNya menaungi seorang ibu yang setia sementara
ia berusaha mendidik anak-anaknya melawan pengaruh kejahatan. Tidak ada
pekerjaan lain yang sebanding pentingnya dari pekerjaan ibu itu. Ia tidak
melukis bentuk keindahan di atas layar seperti halnya seorang pelukis ataupun
seperti pengukir, ia tidak mengukirnya dari batu pualam. Ia tidak mewujudkan
pikiran yang mulia dalam kata-kata yang berkuasa seperti seorang pengarang,
bukan pula seperti ahli-ahli musik ia mengucapkan suatu sentimen yang indah
dalam lagu yang merdu. Dengan pertolongan Allah kesempatan ibulah untuk
memperkembangkan dalam jiwa seorang manusia peta yang sama seperti ilahi.
Ibu yang menghargakan ini akan
memandang segala kesempatannya sebagai sesuatu yang bernilai harganya. Di dalam
tabiatnya sendiri dan oleh cara-cara dia mengajar, ibu itu dengan tekun
berusaha menyampaikan kepada anak-anaknya cita-cita yang lebih tinggi. Dengan
tekun dan sabar serta dengan berani ia akan berusaha memperbaiki kesanggupannya
sendiri, agar ia boleh menggunakan dengan benar segala kuasa pikiran yang
tertinggi dalam mendidik anak-anaknya. Dengan tekun ia akan bertanya pada
tiap-tiap langkah, “Apakah yang telah difirmankan Allah?” Dengan rajin ia akan
menyelidiki firmanNya. Ia akan mengarahkan pandangannya kepada Kristus, agar
pengalamannya setiap hari, di dalam lingkungan pekerjaan dan kewajibannya yang
hina boleh menjadi suatu bayangan yang benar dari Kehidupan yang benar itu. 20
Ibu yang Setia Didaftarkan Dalam Buku Kemasyuran
yang Kekal
Penyangkalan diri dan salib
adalah bagian kita. Maukah kita menerima itu? Tiada seorang di antara kita
perlu mengharap bahwa apabila ujian-ujian besar yang terakhir menimpa kita,
suatu roh patriot dan penyangkalan diri akan diperkembangkan di dalam suatu
saat karena diperlukan. Sesungguhnya bukan demikian, roh ini harus dijalinkan
dengan pengalaman kita setiap hari serta dimasukkan ke dalam hati dan pikiran
anak-anak kita, baik oleh pengajaran maupun oleh teladan. Para ibu dalam bangsa
Israel mungkin bukannya pahlawan-pahlawan peperangan, tetapi mereka boleh
membesarkan pahlawan-pahlawan yang akan memakaikan segenap perlengkapan serta
berperang dengan berani dalam peperangan Tuhan. 21
Hai para ibu, kepada tingkatan
yang besar nasib anak-anakmu terletak di dalam tanganmu. Kalau kamu gagal dalam
kewajiban ini, berarti kamu mengadakan mereka itu dalam barisan musuh serta
membuat mereka alat-alat setan untuk membinasakan jiwa-jiwa; tetapi oleh
teladan yang beribadat serta disiplin yang setia bolehlah kamu memimpin mereka
kepada Kristus dan menjadikan mereka alat-alat di dalam tanganNya untuk
menyelamatkan banyak jiwa. 22
Pekerjaannya sebagai seorang (ibu
Kristen), kalau dilakukan dengan setia di dalam Allah, akan diabadikan. Para
penganut mode tidak akan pernah melihat atau mengerti keindahan abadi dari
pekerjaan ibu Kristen tersebut, dan akan menghinakan pikiran-pikirannya yang
kuno serta pakaiannya yang sederhana dan dipakai hiasan; sedang Raja Sorga akan
menulis nama ibu yang setia itu di dalam buku kemasyhuran yang kekal itu. 23
Saat-saat yang Tiada Ternilai Harganya
Segenap kehidupan Musa di
kemudian hari, tugas yang dilaksanakannya besar sebagai pemimpin Israel,
menyaksikan kepentingan pekerjaan seorang ibu Kristen. Tiada pekerjaan yang
lain yang dapat mengimbangi ini . . . . Para ibu-bapa harus menentukan
pengajaran dan pendidikan anak-anaknya ketika masih sangat muda, yang pada
akhirnya mereka menjadi orang-orang Kristen. Anak-anak itu diberikan kepada
kita untuk dididik, bukan sebagai waris kepada takhta kerajaan duniawi,
melainkan sebagai raja-raja bagi Allah, untuk pekerjaan sepanjang zaman yang
tidak berkesudahan.
Biarlah setiap ibu merasa bahwa
waktu yang ada padanya tiada ternilai harganya; pekerjaannya akan diuji pada
hari perhitungan yang tekun. Pada waktu itu akan nyata kelak bahwa banyak
daripada kegagalan dan kejahatan para pria dan wanita telah diakibatkan karena
kebodohan dan kelalaian orang-orang yang berkewajiban menuntun kaki kanak-kanak
yang masih kecil itu di dalam jalan yang benar. Pada ketika itu akan nyata
bahwa banyak di antara orang yang telah memberkati dunia dengan terang
kecerdasan pikiran, kebenaran dan kesucian berhutang budi akan prinsip-prinsip
yang menjadi sumber utama dari pengaruh dan sukses mereka kepada seorang ibu
Kristen yang berdoa. 24
Tidak ada komentar:
Posting Komentar