10. Kita tidak
berdosa karena melakukan dosa. Kita melakukan dosa karena kita orang berdosa.
Sekelompok mahasiswa kedokteran sedang mempelajari sebuah
mayat untuk tugas kuliah mereka. Mereka berkumpul di ruangan di mana mayat itu
tergeletak dan mendiskusikan masalah yang ada di hadapan mereka.
“Dia terlihat sangat pucat,” kata mahasiswa
pertama.
“Dan dia hanya terbaring di sini, tidak
melakukan apa-apa,” tambah mahasiswa kedua.
“Saya cukup yakin bahwa dia tidak pernah
cukup gerak badan agar tetap sehat,” kata mahasiswa ketiga.
“Saya pikir tujuan kita yang pertama adalah
untuk membangunkan dia dan membuatnya bergerak, untuk menolong agar
sirkulasinya dapat berjalan,” mahasiswa keempat membuat kesimpulan. Maka mereka
mulai berusaha meyakinkan sang mayat agar mulai bergerak, tetapi mayat tersebut
hanya diam di atas meja, dingin dan tanpa suara, tidak peduli apapun yang
mereka katakan atau lakukan.
Ya, ini adalah sebuah perumpamaan! Engkau pasti telah menebaknya! Tetapi menggunakan hal ini merupakan persamaan yang mengerikan, marilah kita menggantikan Tesis 10: “Mayat tidak mati karena terbaring di meja. Mayat terbaring di meja karena mati.” Sifat-sifat yang dimiliki mayat muncul sebagai hasil karena menjadi mati—itu bukan penyebab kematian.
Secara rohani, kita dilahirkan dalam keadaan mati. Paulus berbicara dalam Efesus 2:1 tentang “mati karena pelanggaran dan dosa-dosa.” Perbuatan-perbuatan dosa yang dilakukan orang berdosa hanyalah hasil dari kondisi itu, bukan penyebab.
Saya tidak sedang mencoba mengatakan bahwa melakukan dosa tidak berdosa! Tetapi saya berkata bahwa melakukan dosa bukanlah penyebab yang membuat kita berdosa.
Jika engkau menghentikan sebuah perbuatan-perbuatan dosa
sekarang, apakah itu akan membuatmu benar? Tidak, itu hanya akan membuatmu
berkelakuan baik.
The Desire of Ages, hlm. 21, berkata, “Dosa berawal dari mementingkan diri.” Pikirkanlah hal itu selama beberapa menit. Lucifer adalah yang paling dihormati di antara malaikat-malaikat di surga. Dialah yang tertinggi di antara segala mahluk ciptaan. Namun, dari pada tetap mementingkan TUHAN, dari pada tetap menyembah Dia, dari pada tetap menjadikan kemuliaan dan kehor-matan TUHAN sebagai tujuan tertinggi, Lucifer mulai mencari kemuliaannya sendiri. Dosa tidak mulai dengan Lucifer mencuri buah dari pohon kehidupan. Dosa dimulai dari mementingkan diri dan memuliakan ciptaan dari pada Sang Pencipta.
Adalah hukum alam bahwa tidak mungkin memuliakan TUHAN dan memuliakan diri pada waktu yang bersamaan. Malaikat pertama dari tiga malaikat dalam Wahyu 14 datang dengan pekabaran kepada segala bangsa, kaum, bahasa dan orang-orang, “Takutlah akan Allah dan muliakanlah Dia.”—ayat 7. Pekerjaan injil tidak memiliki ruang untuk kemuliaan manusia.
Pembenaran
oleh iman “adalah pekerjaan TUHAN yang meletakkan kemuliaan manusia di dalam
debu, dan melakukan untuk manusia apa yang tidak mampu dilakukan manusia untuk
dirinya sendiri.”—Testimonies to Ministers, hlm. 456. Penyembahan diri kita dari pada
TUHAN adalah penyebab dari semua dosa yang mengikutinya.
Seorang yang berkemauan keras mungkin mampu menguasai tingkah lakunya. Tetapi bahkan orang terkuatpun tidak mampu mengubah kondisinya yang penuh dosa. “Adalah mustahil bagi kita, dengan kekuatan diri sendiri, untuk melepaskan diri dari lubang dosa dimana kita sedang tenggelam. Hati kita adalah jahat, dan kita tidak dapat mengubahnya.”—Steps to Christ, hlm. 18.
Segala perubahan luar yang kita capai, terpisah dari Kristus, hanyalah hasil dari kemuliaan diri kita yang muncul ke atas, dan kemuliaan TUHAN yang turun ke debu. Dan kita berakhir lebih jauh dari sebelumnya dari kehidupan yang Kristus tawarkan melalui hubungan dan persekutuan dengan Dia.
Sebuah mayat dapat dibersihkan dan dirapikan dan didandani dengan pakaian terbaik. Mayat itu mungkin tidak merasa bersalah karena telah melakukan suatu perbuatan salah. Mayat itu bahkan dapat dibawa ke gereja. Tetapi mayat tetaplah mayat! Hanya hidup baru dari dalam, yang diberikan TUHAN, yang dapat mengubahkan kematian menjadi kehidupan. Hidup baru itu diterima melalui hubungan dengan Dia. “Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut.” Roma 8:2.
Tesis 3 : Mencari Yesus
tesis 4 : Kekristenan dan Keselamatan tidak didasarkan pada apa yang engkau lakukan, tetapi pada siapa yang engkau kenal.
Tesis 5 : Berbuat benar dengan cara tidak berbuat salah sama dengan tidak berbuat benar.
Tesis 6 : Kebenaran akan membuatmu bermoral, tetapi moralitas tidak akan membuatmu benar.
7. Perbuatan-perbuatan baik kita tidak ada hubungannya dengan alasan agar kita diselamatkan. Perbuatan-perbuatan jahat kita tidak ada hubungan-nya dengan alasan agar kita dibinasakan.
8. Setiap orang dilahirkan penuh dosa
tesis 4 : Kekristenan dan Keselamatan tidak didasarkan pada apa yang engkau lakukan, tetapi pada siapa yang engkau kenal.
Tesis 5 : Berbuat benar dengan cara tidak berbuat salah sama dengan tidak berbuat benar.
Tesis 6 : Kebenaran akan membuatmu bermoral, tetapi moralitas tidak akan membuatmu benar.
7. Perbuatan-perbuatan baik kita tidak ada hubungannya dengan alasan agar kita diselamatkan. Perbuatan-perbuatan jahat kita tidak ada hubungan-nya dengan alasan agar kita dibinasakan.
8. Setiap orang dilahirkan penuh dosa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar