PERSESUAIAN
Disesuaikan Satu Dengan yang
Lain
Di dalam banyak keluarga tidak
terdapat kesopan-santunan orang Kristen, rasa hormat yang benar, penurutan, dan
hormat terhadap satu dengan yang lain yang akan menjadikan anggota-anggotanya
mengadakan perkawinan dan membuat rumah-tangga menjadi bahagia kepunyaan mereka
sendiri. Kesabaran orang Kristen seharusnya ada di tempat itu, kemurahan hati,
sopan santun yang manis, dan belas kasihan, padahal di sana terdapat
perkataan-perkataan yang tajam, pikiran-pikiran yang bertentangan, serta roh
yang suka mencela dan bersifat diktator. 1
Sering terjadi bahwa sebelum
perkawinan diadakan orang-orang yang bersangkutan hanya mempunyai sedikit
kesempatan untuk berkenalan, satu dengan yang lain tidak mengenal watak dan
tabiat masing-masing; sampai sebegitu jauh dalam kehidupan sehari-hari tidak
mengenal satu sama lain, sehingga pada waktu dipersatukan mereka merasa asing
dalam perhatian atau mezbah. Ditemukan banyak orang bahwa mereka berkenalan
terlalu terlambat, tidak cocok satu dengan yang lain, maka kesengsaraan seumur
hidup yang menjadi hasil perkawinan mereka itu. Sering sang istri dan anak-anak
menderita karena kemalasan dan ketidakcakapan atau kebiasaan si suami dan bapa.
2
Pada waktu ini dunia dipenuhi
dengan dosa dan kemelaratan sebagai akibat perkawinan-perkawinan yang tidak
cocok satu dengan yang lain. Dalam beberapa hal hanya diperlukan beberapa bulan
saja bagi suami dan istri menyadari bahwa tingkah laku mereka tidak dapat
dipadukan; maka sebagai akibatnya ialah bahwa perselisihan merajalela dalam
rumah tangga itu, di mana seharusnya cinta kasih sorga harus ada.
Oleh pertengkaran dalam
perkara-perkara kecil, suatu roh yang pahit dipertumbuhkan.
Pertentangan-pertentangan terbuka serta pembantahan mendatangkan kesengsaraan
yang tak terkatakan masuk ke dalam rumah tangga itu, dan mencerai-beraikan
orang-orang yang seharusnya bersatu dalam ikatan cinta kasih. Dengan demikian
beribu-ribu orang telah mengorbankan dirinya sendiri jiwa dan tubuhnya oleh
pernikahan-pernikahan yang tidak bijaksana dan telah terjerumus dalam jalan
kebinasaan. 3
Perselisihan Kekal Dalam Rumah
Tangga yang Terpecah-belah
Kebahagiaan dan kesejahteraan
orang yang berumah tangga tergantung atas persatuan kedua-belah pihak.
Bagaimanakah mungkin pikiran jasmani dapat rukun dengan pikiran yang terpisah
kepada pikiran Kristus? Yang seorang sedang menabur kepada daging, berpikir dan
bertindak setuju dengan gerakan dan dorongan hatinya sendiri; yang satu lagi
sedang menabur kepada Roh, berusaha hendak membuangkan sifat mementingkan diri
sendiri, mengalahkan kecongkakan hati, serta hidup dalam penurutan kepada
Tuhan, karena ia mengaku menjadi hambaNya. Dengan demikian selalu ada
perselisihan pendapat, kecenderungan hati, dan maksud. Kecuali orang yang
beriman itu mau mempertahankan prinsip, memenangkan kedegilan hati, dia akan
menjadi tawar hati sebagaimana biasanya serta mengabaikan prinsip-prinsip
agamanya, oleh karena berteman yang merugikan dan dia menjadi seorang yang
putus hubungan dengan sorga. 4
Perkawinan Dihancurkan Dengan
Tidak Adanya Persetujuan
Banyak perkawinan yang hanya
menghasilkan kesengsaraan; namun demikian pikiran-pikiran orang muda tertuju
kepada keperluan ini karena Setan yang memimpinnya, meyakinkan mereka bahwa
mereka harus kawin supaya beroleh kebahagiaan, padahal mereka tidak mempunyai
kesanggupan mengendalikan diri sendiri atau tidak sanggup memelihara keluarga.
Mereka yang tidak mau menyesuaikan diri terhadap satu dengan yang lain, hanya
sekedar menghindarkan diri dari perselisihan-perselisihan dan
perbantahan-perbantahan, janganlah mengambil langkah ini. Tetapi inilah salah
satu jerat yang paling ampuh pada akhir zaman, sehingga beribu-ribu orang akan
binasa dalam kehidupan sekarang ini maupun kehidupan yang akan datang. 5
Akibat Buruk Dari Cinta Buta
Segala kemampuan orang yang telah
ditulari oleh penyakit menular ini – cinta buta – terbawa ke dalam perhambaan.
Tampaknya mereka tidak mempunyai pikiran yang sehat lagi dan bagi mereka yang
menyaksikan keadaan ini merasa muak . . . . Banyak orang mengalami krisis yang
memuncak sebagai akibat perkawinan yang belum matang ini, setelah kesenangan
baru itu berlalu dan cinta berahi yang mempesonakan itu berakhir, maka salah
satu atau kedua-duanya sadar tentang keadaan diri mereka yang sebenarnya. Lalu
menemukan dirinya tidak cocok satu dengan yang lain, tetapi sudah terikat untuk
seumur hidup. Terikat terhadap satu dengan yang lain oleh sumpah yang khidmat
dan tekun, dengan hati yang remuk mereka memandang kepada hidup kemelaratan
yang harus mereka pikul. Yang seharusnya mereka akan memanfaatkan kesempatan
itu dengan sebaik-baiknya, tetapi banyak yang rela berbuat demikian. Ternyata
mereka tidak memperbaiki sumpah palsu yang mereka ucapkan pada perkawinan itu
melainkan meletakkan kuk di atas leher mereka dan mengalami pahit getir yang
memilukan sehingga tidak sedikit orang yang mengakhiri nyawa mereka dengan
cara-cara pengecut. 6
Sejak sekarang ini seharusnyalah
hal itu menjadi pelajaran untuk seumur hidup bagi suami-istri, bagaimana
caranya menghindarkan segala sesuatu yang menimbulkan perselisihan serta
memelihara senantiasa sumpah perkawinan itu. 7
Pengalaman Orang Lain Menjadi
Suatu Amaran
Tuan Anu mempunyai tabiat yang
tidak baik karena dipermainkan oleh Setan dengan cara yang licik. Peristiwa ini
haruslah mengajar orang-orang muda satu pelajaran tentang perkawinan. Istrinya
dipengaruhi perasaan dan dorongan hati, bukan dengan pikiran sehat dan
pertimbangan dalam memilih seorang kawan. Apakah perkawinan mereka itu sebagai
hasil cinta yang benar? Tidak, tidak; itu adalah akibat dorongan hati – hawa
nafsu buta dan najis. Tiada seorangpun di antaranya yang dipantaskan untuk
segala kewajiban kehidupan rumah tangga. Bilamana
kesenangan baru dan segala perkara yang baru telah berlalu, telah mengenal satu
dengan yang lain, adakah cinta mereka bertambah kuat, cinta kasih mereka
semakin mendalam, dan apakah kehidupan dipadukan dalam kerukunan yang indah?
Yang terjadi sebaliknya. Sifat-sifat tabiat mereka bertambah buruk dalam
prakteknya, gantinya perkawinan mereka suatu kebahagiaan, kesusahan yang
bertambah-tambah. 8
Untuk bertahun-tahun lamanya saya
telah menerima surat dari orang-orang yang berbeda-beda yang membentuk rumah
tangga yang tidak bahagia, dan cerita-cerita itu terbuka di hadapan saya cukup
memuakkan dan menyakitkan hati. Bukanlah suatu perkara yang mudah untuk
mengambil keputusan dalam memberi nasihat bagi orang-orang yang malang ini, dan
dengan cara bagaimana nasib mereka yang buruk itu dapat diringankan; tetapi
hendaknya pengalaman mereka yang buruk itu menjadi amaran kepada orang-orang
lain. 9
Tidak ada komentar:
Posting Komentar