Sabtu, 27 Juni 2015

2. MAKANAN DAN KEROHANIAN


MAKANAN DAN KEROHANIAN


         Tidak Bertarak Berarti Dosa
Janganlah seorang yang mengaku saleh menganggap sepele kesehatan tubuh dan memuji dirinya lalu menyatakan hal tidak bertarak bukan dosa dan tidak akan mempengaruhi kerohanian. Antara alam moral dan tubuh terdapat hubungan yang sangat erat.
Pada nenek moyang kita yang pertama, keinginan tidak bertarak telah meng-akibatkan kehilangan Eden. Pertarakan dalam segala hal lebih banyak hubungannya dengan pemulihan kita ke Eden daripada yang kita sadari.
Pelanggaran hukum fisik adalah pelanggaran hukum Allah. Yesus Kristus adalah Khalik kita. Dialah Pencipta diri kita. Dia telah menciptakan susunan tubuh manusia. Dialah Pencipta hukum fisik, Dia pula Pencipta hukum moral. Manusia yang lengah dan tidak peduli tentang kebiasaan dan praktik hidup yang menyangkut kesehatan, mereka berdosa terhadap Tuhan. Banyak orang yang mengaku mengasihi Yesus Kristus tidak menunjukkan rasa khidmat dan penghormatan kepada-Nya, yang telah menyerahkan hidup-Nya untuk menyelamatkan mereka dari kematian kekal. Dia tidak disegani, dihormati dan dikenal. Ini ditunjukkan dengan rusaknya tubuh mereka karena pelanggaran hukum alam.

Pelanggaran hukum alam secara terus-menerus adalah pelanggaran hukum Allah secara terus-menerus. Segala beban penderitaan, kesengsaraan, kerusakan, penuaan, penyakit dan ketololan, semuanya sudah mem-banjiri dunia. Bandingkanlah itu dengan keadaan yang seharusnya menurut rancangan Allah pada mulanya, sungguh seperti sebuah rumah orang kusta. Generasi yang sekarang lemah dalam otak, moral dan kuasa tubuh. Semua kesengsaraan ini sudah menumpuk dari generasi ke generasi karena manusia berdosa melanggar hukum Allah. Dosa paling besar dilakukan melalui pemanjaan selera yang sudah rusak.

Bilamana Penyucian Mustahil Diadakan
Dari semua cacat penderitaan yang menyiksa umat manusia, sebagian besar diakibatkan oleh kebiasaan-kebiasaan mereka yang salah karena sengaja mengabaikan, atau karena tidak menanggapi terang yang diberikan Allah sehubungan dengan hukum-hukum kehidupan mereka. Adalah tidak mungkin bagi kita memuliakan Allah sementara masih melanggar hukum kehidupan. Kita tidak mungkin dapat mempertahankan peng--abdian kepada Allah sementara nafsu selera dimanjakan. Tubuh yang sakit dan intelek yang kacau menghalangi pengabdian jiwa-raga, karena pemanjaan nafsu yang terus-menerus. Rasul Paulus memahami pentingnya kondisi tubuh yang sehat untuk penyempurnaan tabiat umat Allah. Dia katakan: “Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” Dia menyebutkan buah-buah Roh Kudus, di antaranya ialah pertarakan atau pengendalian diri. “Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.”

Sengaja Mengabaikan Berarti Menambah Dosa
Adalah satu tugas bagi kita untuk mengetahui bagaimana caranya memelihara kondisi kesehatan tubuh yang paling baik. Adalah satu kewajiban paling mulia untuk menghidupkan terang Allah yang telah diberikan-Nya dengan anugerah. Sekiranya kita menutup mata dan tidak mau melihat karena takut terhadap kesalahan-kesalahan kita sendiri yang kita tidak mau membuangnya, dosa kita bukan dikurangi, melainkan ditambah. Kalau terang itu ditolak dalam satu hal, itu tidak akan dihargai dalam hal lain. Dosa itu sama besarnya, apakah kita melanggar hukum kesehatan atau melanggar salah satu dari Sepuluh Hukum, karena kita tidak dapat melakukan salah satu tanpa melanggar Hukum Allah. Kita tidak dapat mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan jiwa raga sambil mengasihi nafsu selera kita lebih daripada mengasihi Allah. Dari hari ke hari kita mengurangi kekuatan kita untuk memuliakan Allah, padahal Dia menuntut segenap tenaga pikiran dan jasmani kita. Dengan kebiasaan-kebiasaan kita yang salah, kita semakin melepaskan pegangan hidup namun masih mengaku pengikut Kristus, yang siap untuk jamahan terakhir bagi kebakaan.
Saudaraku, engkau mempunyai satu pekerjaan untuk dilakukan. Tidak ada orang lain yang dapat melakukannya bagimu. Bangunlah dari tidurmu. Kristus akan menganugerahkan hidup bagimu. Ubahlah cara hidupmu; cara makan, cara minum dan cara kerja. Sementara engkau mengikuti arah yang engkau telah jalani bertahun-tahun, engkau tidak dapat membedakan dengan jelas perkara yang kudus dan yang kekal. Perasaanmu telah dikebalkan dan intelekmu digelapkan. Engkau tidak bertumbuh di dalam kasih karunia dan pengetahuan akan kebenaran walau diberi kesempatan bagimu. Engkau tidak bertambah dalam kerohanian, tetapi semakin terjerumus dalam gelap.
Manusia adalah mahkota ciptaan Allah, diciptakan dalam citra Allah dan dibentuk sebagai gambar Allah…. Manusia sangat tinggi nilainya bagi Allah, karena dia dibentuk dalam citra-Nya sendiri. Fakta ini haruslah meyakinkan kita betapa pentingnya pengajaran, dengan kata-kata dan contoh perbuatan dosa pencemaran, oleh memanjakan selera atau oleh kegiatan lain yang penuh dosa; tubuh yang dibentuk untuk mewakili Allah di dunia ini.

Pengaruh Pelanggaran Hukum Fisik Terhadap Pikiran
Allah menuntut kemajuan yang berkesinambungan dari umat-Nya. Perlu kita pelajari bahwa selera yang dimanjakan adalah penghalang besar pada perbaikan mental dan penyucian jiwa. Dengan segala pengetahuan kita tentang reformasi kesehatan, banyak di antara kita makan dengan tidak teratur.
Janganlah menyediakan lebih banyak makanan atau lebih bervariasi pada hari Sabat dibanding dengan hari-hari lain. Sebaliknya, makanan harus lebih sederhana dan lebih sedikit, agar pikiran lebih terang dan lebih kuat untuk memahami perkara-perkara rohani. Lambung yang terlalu penuh membuat otak buntu. Kata-kata yang paling berharga mungkin didengar juga tetapi tidak dihargai, karena pikiran dibingungkan oleh makanan yang tidak teratur. Kalau seseorang makan terlalu kenyang pada hari Sabat, mereka lebih banyak bergerak daripada berpikir membuatnya tidak pantas menerima manfaat Sabat pada kesempatan yang mulia itu.
Telah ditunjukkan padaku bahwa beberapa dari perkumpulan kemah kita keadaannya jauh dari yang dikehendaki Tuhan. Para peserta datang tanpa persiapan akan kunjungan Roh Kudus Allah. Biasanya kaum wanita menggunakan banyak waktu sebelum pertemuan itu untuk menyediakan pakaian dan perhiasan lahiriah, bukan perhiasan batin. Perhiasan batinlah yang sangat bernilai di pemandangan Tuhan. Banyak pula waktu digunakan untuk memasak makanan yang tidak perlu; persediaan kue mewah, dan segala jenis yang merusak pemakannya secara positif. Sekiranya kaum wanita itu menyediakan makanan sehat secara sederhana, maka seluruh keluarga lebih bersedia menerima firman yang hidup, dan lebih lunak menerima pengaruh Roh Kudus.
Seringkali perut dijejali dengan makanan yang jarang dimakan di rumah, di mana kegiatan gerak badan dilakukan dua atau tiga kali lipat. Inilah yang menyebabkan otak itu sangat malas sehingga tidak dapat menghargai perkara-perkara abadi. Setelah selesai acara perkemahan, mereka kecewa karena tidak dapat menikmati lebih banyak pengaruh Roh Kudus…. Biarlah persiapan pakaian dan makanan dinomor duakan, karena penyelidikan hati secara mendalam dimulai di rumah.

Pengaruh Terhadap Penghargaan akan Kebenaran
Engkau memerlukan pikiran yang segar dan cerdas untuk menghargai tabiat kebenaran yang ditinggikan, untuk menilai penebusan, dan untuk menghitung berapa harganya perkara-perkara abadi. Jikalau engkau sudah salah jalan dan memanjakan kebiasaan-kebiasaan makan yang salah sehingga melemahkan kuasa intelek, engkau tidak dapat menghargai keselamatan dan hidup kekal. Ini akan memberi inspirasi padamu untuk menyesuaikan hidupmu dengan hidup Kristus. Engkau tidak akan berusaha dan berkorban dalam penyesuaian diri kepada kehendak Allah sebagaimana tuntutan-Nya. Penyesuaian ini penting, karena itu memberikan kepadamu suatu kesanggupan moral menghadapi jamahan terakhir kebakaan.
Sekalipun kamu ketat memilih kualitas makananmu, apakah kamu memuliakan Allah dalam tubuh dan rohmu yang menjadi milik-Nya dengan mengambil begitu banyak makanan? Mereka yang menjejali perut dengan makanan, mereka juga membebani alam, sehingga tidak dapat menghargai kebenaran yang mereka dengar. Mereka tidak dapat membangkitkan kepekaan perasaan otak yang sudah dilumpuhkan untuk menyadari nilai penebusan dan pengorbanan besar yang telah diberikan kepada manusia berdosa. Orang seperti itu tidak dapat menghargai upah yang sangat besar dan indah yang disediakan bagi para pemenang yang setia. Janganlah biarkan sifat kebinatangan yang ada pada kita menguasai moral dan intelek.
Sebagian masih memanjakan hawa nafsu yang berperang melawan jiwa. Inilah penghalang yang selalu mengganggu kemajuan kerohanian. Mereka selalu disiksa oleh hati nurani yang menuduh kesalahan. Ketika kebenaran dinyatakan, mereka siap untuk dipersalahkan. Mereka tertuduh sendiri dan merasa yang hal itu sengaja dipilih untuk menyinggung masalah mereka. Mereka merasa sedih dan terluka sehingga menarik diri mereka dari perhimpunan orang-orang saleh. Mereka meninggalkan perkumpulan karena merasa hati nurani mereka tidak lagi terganggu. Akhirnya keinginan mereka hilang untuk menghadiri kumpulan dan mengasihi kebenaran. Kemudian mereka kembali dan bergabung dengan pemberontak; kecuali bertobat sepenuhnya, mereka berada di bawah kibaran panji-panji Setan yang hitam. Sekiranya mereka ini me-nyalibkan hawa nafsu daging yang berperang melawan jiwa, mereka akan keluar dari jalan itu di mana panah-panah kebenaran akan beterbangan melewati mereka. Tetapi sementara mereka memanjakan hawa nafsu, dengan demikian mereka memuja berhala, mereka menempatkan diri sebagai sasaran panah-panah kebenaran. Kalau kebenaran saja yang dibicarakan, mereka pasti terluka kena panah itu….
Bahan-bahan perangsang non-alamiah dapat merusak kesehatan dan me-lumpuhkan otak sehingga tidak mungkin lagi menghargai perkara-perkara abadi. Mereka yang memuja berhala ini tak dapat menilai keselamatan dengan benar, di mana Kristus telah menyelamatkan manusia berdosa dari kematian. Ini dilakukan-Nya dengan penyangkalan diri, penderitaan dan kecaman yang tak habis-habisnya, dan akhirnya menyerahkan diri-Nya yang tak berdosa itu sebagai korban.
Mentega dan daging merangsang. Bahan ini melukai lambung dan merusak selera. Saraf-saraf otak yang peka itu sudah dilumpuhkan. Selera kebinatangan bertambah dan mengorbankan kecakapan intelek dan moral. Kuasa yang lebih tinggi bertambah lemah, yang seharusnya adalah pengatur, sehingga perkara-perkara abadi tidak lagi dibedakan. Maka terjadilah kelumpuhan kerohanian dan pengabdian diri. Setan merasa menang melihat betapa mudahnya dia dapat masuk melalui selera sehingga menguasai intelek laki-laki dan perempuan, yang seharusnya dibutuhkan oleh Pencipta untuk melakukan satu pekerjaan yang besar dan baik.

Pengaruh Atas Kesanggupan Membedakan dan Memutuskan
Apa saja yang mengurangi kekuatan fisik itu juga melemahkan pikiran, dan menurunkan kesanggupannya untuk membedakan yang benar dari yang salah. Kita menjadi kurang sanggup memilih yang baik, dan kekuatan kemauan menurun untuk melakukan apa yang kita tahu benar.
Penyalahgunaan kuasa tubuh akan memperpendek usia, padahal hidup kita dapat digunakan untuk kemuliaan Allah. Kita juga tidak layak melakukan pekerjaan Allah.
Mereka, yang telah menerima terang tentang kesederhanaan makanan dan pakaian, dalam penurutan hukum fisik dan moral, yang masih menyimpang dari terang yang menunjukkan tugas mereka, akan menghindari tugas dalam hal-hal lain. Dengan menolak salib, yang mereka harus pikul agar selaras dengan hukum alam, mereka menumpulkan hati nurani. Mereka akan melanggar Sepuluh Hukum untuk menghindari celaan. Yang lain tidak mau memikul salib lalu menghina beban yang memalukan itu.
Mereka yang mendatangkan penyakit ke atas dirinya sendiri, dan merasa puas dengan itu, tentu memiliki tubuh dan pikiran yang tidak sehat. Mereka tidak dapat menimbang bukti-bukti kebenaran atau memahami tuntutan Allah. Juruselamat kita tidak akan mengulurkan tangan-Nya cukup rendah untuk mengangkat orang seperti itu dari keadaan yang merosot sementara mereka tetap berusaha menenggelamkan diri lebih dalam.
Semua orang dituntut untuk melakukan apa yang mereka dapat lakukan dalam memelihara kesehatan tubuh dan kecerdasan otak. Kalau mereka puas dengan selera kotor, dan dengan demikian menumpulkan kepekaan mereka dan menurunkan daya pikir, sehingga mereka tidak dapat menghargai tabiat Allah yang ditinggikan, atau kesukaan mempelajari firman-Nya, maka mereka akan merasa pasti, bahwa Allah tidak menerima persembahan mereka yang tidak layak seperti halnya persembahan Kain. Allah menuntut mereka supaya membersihkan diri dari segala kekotoran tubuh dan pikiran, menyempurnakan kesucian dalam takut akan Tuhan. Setelah manusia melakukan segalanya dengan kuasa untuk memulihkan kesehatan, oleh menyangkal selera dan nafsu kotor, agar dia memiliki pikiran sehat dan angan-angan hati yang disucikan, agar dia mempersembahkan kepada Allah satu persembahan dalam kebenaran, maka dia diselamatkan oleh satu mukjizat kemurahan Allah seperti bahtera di atas air yang berkecamuk. Nuh telah melakukan segala yang dituntut Allah dari padanya dalam pembuatan bahtera yang tangguh; barulah Allah melakukan yang tak dapat dilakukan manusia dan melindungi bahtera itu dengan kuasa-Nya yang ajaib.
Penyalahgunaan perut untuk pemuasan selera adalah sumber utama kesusahan yang menimpa jemaat. Mereka yang makan dan bekerja secara tidak bertarak tanpa per-timbangan, biasanya bicara dan bertindak tanpa pertimbangan pula. Orang yang tak bertarak tidak dapat menjadi orang yang sabar. Tidak bertarak bukan artinya minum minuman ber-alkohol. Dosa karena makan tidak bertarak, makan terlalu sering, terlalu banyak, makan makanan mewah yang tidak sehat, semuanya merusak fungsi alat

pencernaan, menganggu pikiran, merusak pertimbangan, mengganjal pemikiran sehat yang menggunakan pertimbangan dan tindakan yang tenang. Maka inilah sumber kesusahan yang menimpa jemaat. Karena itu, agar umat Allah berada dalam keadaan yang sama seperti Dia, di mana mereka dapat memuliakan Dia dengan tubuh dan jiwa, yang sebenarnya adalah milik-Nya, mereka harus dengan senang hati dan rajin menyangkal pemuasan selera dan bertarak dalam segala hal. Barulah mereka dapat memahami kebenaran dalam keindahan dan kejelasannya. Mereka membawanya dalam kehidupannya; dan dengan tujuan yang lurus, bijaksana dan masuk akal, mereka tidak memberi kesempatan bagi musuh kebenaran untuk mencela kebenaran itu sendiri.
Sebagian orang mengejek pekerjaan reformasi ini dan mengatakan itu tidak perlu, bahwa itu adalah satu rangsangan untuk mengalihkan pikiran dari kebenaran masa kini. Mereka mengatakan bahwa hal itu terlalu dibesar-besarkan. Orang seperti itu tidak tahu apa yang mereka katakan. Sementara laki-laki dan perempuan yang mengaku saleh dihinggapi penyakit mulai dari batok kepala sampai ke telapak kaki, sementara tenaga tubuh, pikiran dan roh dilemahkan karena pemuasan hawa nafsu dan pekerjaan yang terlalu berat, bagaimanakah mereka dapat menimbang bukti-bukti kebenaran, dan memahami segala tuntutan Allah? Kalau kuasa moral dan intelek sudah dikelabui, mereka tidak dapat menghargai nilai pendamaian atau sifat pekerjaan Allah yang diagungkan itu, dan tidak senang pula mempelajari firman-Nya. Bagaimanakah seorang yang mengalami gangguan saraf siap memberi jawaban kepada setiap orang yang bertanya tentang dasar-dasar iman yang ada padanya, dengan sabar dan rasa takut? Berapa cepatkah orang itu akan menjadi bingung dan tergoncang, dan dengan imajinasinya yang sudah kabur, dapatkah ia dituntun untuk memandang segala perkara di bawah terang yang sama sekali salah, dan dengan kurangnya kesabaran dan ketenangan yang menandai hidup Kristus, dapatkah orang itu menolak pernyataannya sementara menghadapi seorang yang tidak berakal? Untuk memandang segala perkara dari sudut ukuran agama yang tinggi, kita harus menjadi reformator yang saksama supaya menjadi seperti Kristus.
Saya melihat bahwa Bapa kita yang di surga telah memberikan berkat besar kepada kita, yaitu terang reformasi kesehatan, supaya kita dapat menuruti tuntutan-Nya kepada kita, dan memuliakan Dia dalam jiwa raga kita yang adalah milik-Nya, dan akhirnya kita dapat berdiri tanpa cacat-cela di hadapan takhta Allah. Iman kita menuntut agar kita meninggikan standar dan melangkah maju. Sementara banyak orang mempertanyakan arah yang dituju reformator kesehatan lainnya, selaku orang yang berakal sehat, mereka sendiri harus melakukan sesuatu. Bangsa kita berada dalam kondisi yang menyedihkan, karena menderita berjenis-jenis penyakit. Banyak orang sudah menderita penyakit. Mereka sangat menderita karena kebiasaan-kebiasaan salah dari orang tua mereka. Namun, mereka tetap menuruti jalan yang salah, dan anak-anak mereka menyusul. Mereka jatuh sakit dan tidak menyadari bahwa kebiasaan mereka yang salah mendatangkan penderitaan besar.
Ada beberapa orang yang cukup memahami bagaimana kebiasaan-kebiasaan makan mereka yang berhubungan dengan kesehatan, tabiat, kegunaan mereka di dunia ini, dan tujuan mereka yang kekal. Saya melihat bahwa adalah tugas bagi mereka, yang sudah menerima terang dari surga dan yang telah menerima keuntungan kalau berjalan di dalamnya, untuk menyatakan keinginan yang lebih besar bagi mereka yang masih menderita karena kurang berpengetahuan. Para pemelihara Sabat yang sedang menantikan kedatangan Juruselamat, seharusnya menjadi orang yang tidak menyatakan kekurangan minat dalam pekerjaan reformasi yang besar ini. Laki-laki dan perempuan haruslah dididik dan para pendeta dan orang awam harus merasa bahwa beban pekerja-an itu terletak pada mereka untuk mengajarkan dan menekankannya kepada orang lain.
Kebiasaan-kebiasaan fisik  menunjang peranan penting bagi kemajuan setiap orang. Lebih teliti kamu dalam hal makanan, lebih sederhana dan tanpa bahan perangsang, maka lebih mantap pertahanan tubuh dalam kegiatan yang seimbang, dan lebih jelaslah konsep tentang tugasmu. Setiap kebiasaan dan praktik hidup haruslah diteliti dengan saksama, agar kelemahan tubuh jangan menudungi segala sesuatu.
Kesehatan kita ditunjang oleh apa yang kita makan. Jikalau selera kita tidak dikuasai oleh pikiran yang disesuaikan, jikalau kita tidak bertarak dalam hal makan dan minum, kita tidak memperoleh kesehatan tubuh dan mental untuk mempelajari firman Tuhan dengan semboyan “Beginilah firman Tuhan!” Apakah yang akan kulakukan supaya dapat mewarisi hidup kekal? Kebiasaan yang tidak sehat akan menghasilkan kondisi yang tidak sehat dalam organ tubuh. Lalu perutnya yang halus selaku mesin hidup akan terluka dan akhirnya tidak sanggup melakukan tugasnya dengan baik. Cara makan dan minum dekat dengan gerbang dosa dan pencobaan.
Apabila Juruselamat manusia dengan kekuatan Ilahi-Nya merasa perlu berdoa, betapa lebih besar manusia lemah dan berdosa seharusnya merasa kebutuhannya dalam doa yang sungguh-sungguh dan senantiasa. Waktu Kristus diserang pencobaan yang luar biasa, Dia tidak makan. Dia menyerahkan diri pada Allah. Melalui doa yang sungguh-sungguh dan kepasrahan sempurna kepada Bapa-Nya, Dia keluar sebagai pemenang. Mereka yang mengaku memegang kebenaran masa kini, di atas semua golongan yang mengaku umat beragama, haruslah meniru Teladan Agung dalam doa. “Seorang murid haruslah menjadi serupa dengan Gurunya.”
Meja makan kita sering dipenuhi dengan makanan mewah yang tidak menyehatkan dan tidak perlu, karena kita menggandrunginya lebih daripada penyangkalan diri, bebas dari penyakit dan kecerdasan otak. Yesus dengan sungguh-sungguh mencari kekuatan dari Bapa-Nya. Anak Allah menganggap ini lebih berharga bagi-Nya daripada duduk di meja makan yang penuh makanan mewah. Dia telah membuktikan pada kita bahwa doa sangat penting menerima kekuatan melawan kuasa kegelapan dan melakukan tugas yang dipercayakan pada kita. Kekuatan kita sendiri adalah kelemahan; tetapi yang diberikan Allah pada kita adalah kuasa, sehingga setiap orang yang memperolehnya lebhi besar daripada seorang pemenang.

Akibatnya Terhadap Pengaruh dan Kegunaan
Kasihan kalau perut itu dijejali dengan makanan yang tidak menyehatkan sedangkan kita harus menyangkal diri. Makanan yang dijejalkan demikian membusuk di dalam perut. Penderitaan perut itu mempengaruhi otak. Pemakan yang gelojoh tidak menyadari bahwa dia sedang merusak dirinya sehingga tidak sanggup memberi nasihat yang bijaksana, dan menurunkan kualitasnya dalam meletakkan rencana bagi kemajuan pekerjaan Tuhan. Memang demikianlah halnya. Dia tidak dapat mengenal perkara-perkara rohani. Di dalam rapat, dia mengatakan tidak yang seharusnya Amin atau Ya. Dia

membuat rencana yang terlalu muluk-muluk. Makanan yang telah ia makan melumpuhkan otaknya.
Beberapa orang tak dapat diyakinkan tentang pentingnya makanan dan minuman demi kemuliaan Allah. Pemanjaan hawa nafsu mempengaruhinya dalam segala aspek kehidupan. Hal ini nampak dalam lingkungan keluarga, jemaat, kumpulan permintaan doa, dan di dalam tabiat anak-anak mereka. Itulah yang menjadi kutuk dalam kehidupan mereka. Kamu tidak dapat meyakinkan mereka akan kebenaran masa kini. Allah telah menyediakan dengan limpahnya kelangsungan hidup dan kebahagiaan semua makhluk ciptaan-Nya. Jikalau hukum-Nya tidak dilanggar, dan semua orang berlaku sesuai dengan kemauan Ilahi, maka kesehatan, damai dan kebahagiaan akan dialami gantinya kesengsaraan dan kejahatan yang berkesinambungan.
Penebus dunia ini mengetahui bahwa pemanjaan selera akan membawa kelesuan fisik, organ yang berhubungan dengan pengertian begitu dimatikan sehingga perkara-perkara suci dan kekal tak dapat dibedakan.
Kristus mengetahui bahwa dunia telah menyerah kepada kegelojohan dan bahwa pemanjaan ini akan merusak kuasa moral. Pemanjaan selera ini begitu kuat mempengaruhi umat manusia sehingga untuk mematahkan kuasa ini, Yesus perlu berpuasa hampir enam minggu demi manusia itu sendiri. Seorang umat Allah mempunyai tugas besar agar dia dapat mengalahkan penggodaan seperti Kristus telah menang. Kekuatan pencobaan untuk memanjakan selera yang salah itu dapat diukur hanya dengan penderitaan Kristus yang tak terperikan selama berpuasa di padang gurun.
Kristus mengetahui bahwa agar rencana keselamatan dapat dilaksanakan dengan sukses, Dia harus memulai pekerjaan penebusan manusia di mana kerusakan mulai terjadi. Adam jatuh karena pemanjaan selera. Untuk meyakinkan manusia akan kewajibannya terhadap hukum Allah, Kristus memulai pekerjaan penebusan dengan mereformasi kebiasaan-kebiasaan manusia. Penurunan kebajikan dan kemerosotan bangsa adalah berkaitan dengan pemanjaan selera yang sudah diselewengkan.

Kewajiban Istimewa dan Pencobaan Khusus bagi Gembala
Ada satu kewajiban mulia untuk semua orang, khususnya bagi para gembala yang mengajarkan kebenaran, yaitu mengalahkan selera. Kegunaan mereka akan jauh lebih besar jika mereka menguasai selera dan hawa nafsu. Kekuatan mental dan moral mereka akan lebih kuat jika mereka menggabungkan pekerjaan fisik dengan mental. Dengan kebiasaan yang sangat ketat, dan dengan gabungan pekerjaan fisik dan mental, mereka dapat melakukan lebih banyak pekerjaan dan mempertahankan pikiran yang cerdas. Jikalau mereka mengejar tujuan seperti itu, maka pikiran dan kata-kata mereka akan lebih lancar, kegiatan agama akan lebih bersemangat, dan kesan kepada para pendengar akan lebih nyata.
Makan dengan tidak bertarak, walaupun makanannya berkualitas tinggi, akan membawa pengaruh buruk kepada organ tubuh, dan akan menumpulkan perasaan hati yang tajam dan yang suci sekalipun.
Banyak orang membawa ke tempat perkemahan makanan yang sama sekali tidak cocok untuk kumpulan seperti itu, kue-kue mewah dan sejumlah jenis makanan yang akan merusak pencernaan seorang pekerja yang sehat. Tentu saja yang terbaik pun tidak selamanya baik untuk pendeta. Anggota mengirim makanan ini ke meja makannya atau mengundangnya ke meja makan mereka. Dalam hal ini para pendeta tergoda untuk makan terlalu banyak, yaitu makanan yang berbahaya. Bukan hanya kecakapan mereka yang berkurang di perkemahan itu; mereka akan menderita ketidakberesan pencernaan.
Pendeta harus mengurangi keramahan ini, walaupun nampaknya dia jadi kurang sopan. Biarlah anggota mengurangi kebaikan hati seperti itu demi pendetanya. Mereka bersalah jikalau mereka menggoda pendeta untuk makan makanan yang tidak menyehatkan. Dengan demikian, banyaklah keterampilan berharga hilang dalam pekerjaan Tuhan. Banyak lagi yang walaupun mereka masih hidup tetapi sudah

kehilangan separuh dari tenaga pikiran mereka. Di atas segalanya para pendeta harus mengirit tenaga otak dan saraf. Mereka harus meng-hindarkan segala jenis makanan dan minuman yang cenderung mengganggu atau merangsang saraf. Gangguan saraf yang diikuti oleh depresi dan pemanjaan yang berlebihan akan mengelabui otak sehingga pikiran jadi buntu, lalu timbullah kebingungan. Tidak ada orang yang dapat menjadi pekerja yang sukses dalam perkara rohani kecuali dia mengikuti pertarakan ketat dalam hal kebiasaan menu makanan. Allah tidak akan menurunkan Roh Kudus-Nya kepada mereka yang mengetahui bagaimana mereka harus makan untuk kesehatan tetapi masih mengikuti cara yang akan melemahkan tubuh dan pikiran.
Dengan ilham Roh Allah, Rasul Paulus menulis: “apa pun yang kamu lakukan,” walaupun perihal makan dan minum seharusnya dilakukan “demi kemuliaan Allah” bukan memuaskan satu selera yang salah tetapi dalam rasa tanggung jawab. Setiap bagian tubuh manusia harus dilindungi. Kita harus waspada agar apa yang dimasukkan ke dalam perut janganlah melemahkan pikiran yang suci dan murni. Tidak dapatkah aku melakukan apa yang menyenangkan hatiku? Itulah yang ditanyakan oleh beberapa orang seakan-akan kami menahankan hal-hal yang baik dari mereka, padahal kami hanya menganjurkan cara makan yang bijaksana, agar mereka menyesuaikan kebiasaannya dengan hukum Allah yang sudah ditetapkan.
Setiap orang mempunyai hak asasi. Kita masing-masing mempunyai pribadi dan identitas kita sendiri. Tidak ada orang yang mau membenamkan identitasnya di dalam diri orang lain. Semua orang bertindak sesuai dengan kata hati mereka sendiri. Mengenai tanggung jawab dan pengaruh kita yang diberkati Allah sebagaimana hidup kita, bermula dari pada-Nya. Ini tidak kita peroleh dari manusia, tetapi hanya dari Allah. Kita adalah milik-Nya berdasarkan penciptaan dan penebusan. Tubuh bukanlah milik kita sendiri yang akan kita perlakukan sekehendak kita, untuk merusaknya dengan kebiasaan yang merosot sehingga tidak mungkin bagi kita untuk memberikan pelayanan yang sempurna kepada Allah. Hidup dan pikiran kita adalah milik-Nya. Dia melindungi kita setiap saat. Dia menjaga mesin itu tetap hidup. Jikalau kita dibiarkan menjalankannya sendiri sedetik pun, kita akan mati. Kita sepenuhnya bergantung kepada Allah. Kita mendapat satu pelajaran penting apabila kita memahami hubungan kita dengan Allah, dan hubungan-Nya dengan kita. Kata-kata yang berbunyi: “Kamu bukanlah milikmu sendiri, kamu sudah dibeli dengan harga tunai,” seharusnya tersimpan di dalam ingatan supaya kita dapat senantiasa mengakui hak-hak Allah atas talenta kita, harta benda kita, pengaruh kita dan pribadi kita. Kita perlu mempelajari bagaimana sebaiknya memperlakukan anugerah Allah dalam pikiran, tubuh dan jiwa agar kita dapat memberikan pelayanan yang baik dan sehat kepada-Nya karena kita adalah milik-Nya.
Terang bersinar di jalanmu yang menuju reformasi kesehatan. Begitu juga tugas melakukan pertarakan dalam segala hal itu diserahkan pada umat Allah, pada zaman akhir ini. Saya melihat kamu di antara sejumlah orang yang mundur, melihat sinar dan memperbaiki cara makan, cara minum dan cara bekerja. Sementara sinar kebenaran diterima dan dituruti, sinar itu akan melakukan reformasi dengan saksama dalam kehidupan dan tabiat mereka yang disucikan olehnya.

Hubungan dengan Hidup yang Menang
Makan, minum dan berpakaian, semua membawa pengaruh langsung kepada kemajuan kerohanian kita.
Banyak jenis makanan yang dimakan bebas oleh orang kafir menjadi larangan bagi orang Israel. Ini bukan hanya perbedaan tertentu. Perkara-perkara yang dilarang itu adalah makanan yang tidak sehat. Pengumuman tentang makanan haram itu memberikan satu pelajaran bahwa penggunaan makanan yang merusak kesehatan adalah mencemarkan tubuh. Yang merusak tubuh cenderung merusak juga jiwa. Itu tidak melayakkan dia berkomunikasi dengan Allah, tidak layak juga untuk pelayanan yang kudus dan agung.
Roh Tuhan tidak dapat menolong kita, dan membantu kita dalam penyempurnaan tabiat kita, sementara kita memanjakan selera sampai merusak kesehatan, dan sementara kesombongan menguasai diri.
Semua orang yang mewarisi sifat Ilahi akan lepas dari kebusukan nafsu di dunia ini. Tak mungkin bagi orang yang memanjakan selera untuk memperoleh kesempurnaan Kristen.
Inilah penyucian yang benar. Itu bukan hanya satu teori, satu emosi, atau bentuk kata-kata, tetapi prinsip yang hidup dan aktif memasuki hidup kita sehari-hari. Itu menuntut agar kebiasaan kita waktu makan, minum, dan berpakaian semua menunjang kesehatan fisik, mental dan moral agar kita dapat mempersembahkan tubuh kepada Tuhan bukan persembahan kebiasaan yang salah, tetapi “satu persembahan yang hidup, kudus dan berkenan kepada Allah.” (Lihat 254).
Kebiasaan kita akan hal makan dan minum menunjukkan apakah kita orang dunia atau tergolong orang-orang yang diasingkan Allah dari dunia dengan kebenaran-Nya yang perkasa itu.
Sifat tidak bertarak dalam hal makanlah yang menyebabkan ketidakberdayaan sehingga kemuliaan Tuhan dirampas. Oleh karena kegagalan menyangkal diri, banyak di antara umat Allah tak dapat mencapai standar kerohanian yang tinggi yang telah ditetapkan bagi mereka meskipun mereka menyesal dan bertobat, seluruh kekekalan akan menyaksikan sesuatu yang hilang dari mereka oleh karena mementingkan diri.
Betapa banyak orang kehilangan berkat Allah yang disimpan bagi mereka dan diberikan dalam keadaan sehat rohani dan jasmani. Ada banyak jiwa yang bergumul untuk memperoleh kemenangan dan berkat khusus sehingga mereka melakukan sesuatu perkara yang besar. Dalam hal ini mereka merasa tetap harus bergumul di dalam doa dan linangan air mata. Apabila orang-orang seperti itu mencari Tuhan dengan doa

untuk mengetahui kemauan Allah, kemudian melakukan kehendak-Nya dengan segenap hati tanpa pamrih dan pemanjaan diri, mereka akan merasa tenang.
“Setiap orang yang mau mengikut Aku,” kata Yesus kepada mereka, “ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.” Marilah kita mengikuti Juruselamat dalam kesederhanaan-Nya dan penyangkalan diri-Nya. Marilah kita meninggikan Yesus dengan kata-kata dan kehidupan kita yang kudus. Juruselamat mendekati mereka yang menyucikan diri bagi Allah. Apabila ada suatu waktu di mana kita memerlukan pekerjaan Roh Allah di dalam hati dan kehidupan kita, sekaranglah waktunya. Marilah kita memegang teguh kuasa Ilahi untuk menghidupkan satu kehidupan yang kudus disertai penyerahan diri.
Nenek moyang kita kehilangan Eden karena pemanjaan selera, dan satu-satunya harapan kita memperoleh Eden kembali ialah melalui penyangkalan selera dan nafsu secara teguh. Pertarakan dalam hal cara makan dan penguasaan segala nafsu akan melindungi intelek dan memberikan kekuatan mental dan moral, menyanggupkan manusia menguasai semua sifat-sifatnya dan membedakan yang benar dari yang salah, yang suci dari yang biasa. Semua orang yang benar-benar merasakan pengorbanan Kristus pada waktu meninggalkan istana-Nya di surga dan datang ke dunia untuk melawan penggodaan, akan bersenang hati menyangkal diri dan memilih menderita bersama Kristus. Kristus menunjukkan dalam hidup-Nya bagaimana cara manusia mengalahkan pencobaan.
Takut akan Tuhan adalah permulaan segala hikmat. Mereka yang telah menang sebagaimana Kristus telah menang akan senantiasa menjaga diri untuk melawan penggodaan Setan. Selera dan nafsu harus dibatasi sesuai dengan kata hati nurani, supaya intelek tidak menyimpang, kuasa pemikiran jelas, sehingga pekerjaan Setan dan jeratnya tidak disalahpahami sebagai sesuatu yang datangnya dari Allah. Banyak orang menginginkan kemenangan dan upah terakhir yang akan diberikan kepada pemenang tetapi tidak sudi bekerja keras menyangkal diri, seperti Penebus. Hanya melalui penurutan dan usaha yang berkesinambungan kita akan menang sebagaimana Kristus telah menang.
Dengan mengendalikan kuasa selera ribuan manusia tidak akan rusak, karena jikalau mereka menang dalam hal ini, mereka akan mempunyai kuasa moral mengalahkan setiap pencobaan Setan. Tetapi mereka yang menjadi hamba selera akan gagal dalam menyempurnakan tabiat Kristen. Pelanggaran manusia yang terus-menerus selama 6000 tahun telah membawa penyakit, rasa sakit, kematian dan segala akibatnya. Sementara kita mendekati akhir sejarah, penggodaan Setan untuk memanjakan selera akan lebih berkuasa dan lebih sukar untuk dikalahkan.
Dia yang mengingini terang Allah tentang reformasi kesehatan mempunyai satu pertolongan saat menyucikan diri melalui kebenaran. Dia layak mendapat kekekalan.

Hubungan Cara Makan dengan Moral

Pencemaran Moral pada Zaman Dahulu
Manusia yang hidup sebelum Air Bah makan daging hewan dan memuaskan nafsu sampai piala kejahatan penuh, sehingga Allah membersihkan bumi ini dari pencemaran moral dengan Air Bah….
Sejak kejatuhan manusia dosa merajalela. Sementara masih ada yang tetap setia kepada Allah, mayoritas dari mereka telah mencemarkan kehidupan mereka di hadapan-Nya. Pemusnahan Sodom dan Gomora disebabkan oleh kejahatan penduduknya. Mereka tidak mengekang selera kemudian nafsu mereka sudah merajalela, begitu merosotnya akhlak mereka, dosa mereka begitu keji sehingga piala kejahatan begitu penuh, dan kemudian mereka dihanguskan oleh api dari surga.
Dosa yang sama muncul di zaman kita sehingga murka Allah dicurahkan ke dunia ini seperti pada zaman Nuh. Sekarang ini laki-laki dan perempuan mengubah cara makan dan minum kepada kerakusan dan kemabukan. Dosa yang merajalela, pemanjaan selera yang salah, telah membakar nafsu laki-laki pada zaman Nuh sehingga terjadilah kemerosotan moral sampai kejahatan dan kekerasan mereka naik ke surga dan Allah menyucikan bumi ini dari pencemaran moral oleh Air Bah.
Dosa kerakusan dan kemabukan melumpuhkan kepekaan moral penduduk Sodom sehingga kejahatan itu nampaknya menjadi kesenangan laki-laki dan perempuan di kota maksiat itu. Kristus memberi amaran kepada dunia: “Demikian juga seperti yang terjadi di zaman Lot: mereka makan dan minum, mereka membeli dan menjual, mereka menanam dan membangun. Tetapi pada hari Lot keluar dari Sodom turunlah hujan api dan hujan belerang dari langit dan membinasakan mereka semua. Demikianlah halnya kelak pada hari di mana Anak Manusia menyatakan diri-Nya.”
Kristus meninggalkan bagi kita suatu pelajaran yang sangat penting. Dalam pengajaran-Nya, Dia tidak mendorong kita supaya bermalas-malas. Contoh yang diberikan-Nya bertentangan dengan hal ini. Kristus adalah seorang pekerja yang bersungguh-sungguh. Hidup-Nya penuh dengan penyangkalan diri, kerajinan, kesabaran, keterampilan dan penghematan. Dia dapat memaparkan di hadapan kita bahaya menjadikan makan dan minum yang terpenting. Dia menyatakan akibat dari penyerahan diri kepada pemanjaan selera. Kuasa moral dilemahkan, sehingga dosa tidak tampak berbahaya. Kejahatan dianggap remeh, nafsu kebinatangan menguasai pikiran, sampai seluruhnya membusuk tanpa prinsip dan kata hati. Kemudian Allah dihinakan. Semua ini adalah karena makan dan minum terlalu banyak. Kondisi seperti inilah dikatakan-Nya akan muncul sebelum kedatangan-Nya yang kedua kali. Apakah laki-laki dan perempuan akan diberikan amaran? Apakah mereka mau mengasihi terang, atau mau menjadi hamba selera dan nafsu? Kristus menghadapkan kepada kita sesuatu yang tinggi untuk diusahakan lebih daripada apa yang akan kita makan, apa yang akan kita minum, atau apa yang akan kita pakai. Makan minum dan berpakaian begitu berlebihan sampai menjadi kejahatan, ini adalah salah satu dosa yang besar di zaman akhir yang menjadi salah satu tanda kedatangan Kristus. Waktu, uang dan kekuatan yang menjadi milik Tuhan, yang telah dipercayakan kepada kita, telah diboroskan dalam pakaian yang mewah dan kesenangan nafsu yang diselewengkan, yang menurunkan daya tahan tubuh dan membawa penderitaan dan kemerosotan. Tidak mungkin mempersembahkan tubuh kita sebagai suatu korban yang hidup kepada Allah sementara tubuh itu dipenuhi dengan kejahatan dan penyakit oleh pemanjaan kita yang penuh dosa itu.

Kejahatan Merajalela karena Selera yang Tidak Terkendali
Banyak orang merasa heran bahwa umat manusia begitu merosot dalam hal fisik, mental dan moral. Mereka tidak memahami bahwa itu adalah pelanggaran terhadap aturan dan hukum Allah, dan pelanggaran terhadap hukum kesehatan yang menghasilkan kemerosotan sedemikian. Pelanggaran akan hukum Allah telah menjauhkan tangan Allah yang penuh kemakmuran itu.
Makan dan minum secara tidak bertarak, pemanjaan nafsu kebinatangan, telah melumpuhkan perasaan sehingga perkara-perkara suci disamakan dengan perkara-perkara yang biasa.
Mereka yang membiarkan diri mereka diperhamba oleh selera yang rakus, sering melangkah lebih jauh dan merendahkan derajat mereka oleh pemanjaan nafsu, yang dirangsang karena makan dan minum tidak bertarak. Mereka melepaskan nafsu kebinatangan sehingga intelek dan kesehatan sangat menderita. Pertimbangan sehat menjadi rusak karena kebiasaan kejahatan yang melampaui batas.
Makan dan minum tidak teratur, berpakaian dengan tidak pantas, merendahkan pemikiran dan mencemarkan hati, dan juga memperbudak sifat jiwa yang agung sampai mencapai pada taraf nafsu kebinatangan.
janganlah orang yang mengaku saleh menganggap sepele kesehatan tubuh, dan memuji diri mereka bahwa kurang pertarakan bukanlah dosa dan tidak mempengaruhi kerohanian. Ada hubungan erat antara alam fisik dan alam moral. Standar kebajikan ditinggikan atau direndahkan oleh kebiasaan fisik. Makan makanan terbaik secara berlebihan akan menghasilkan kondisi perasaan moral yang lemah. Jikalau makanan itu bukanlah yang paling menyehatkan, pengaruhnya lebih berbahaya lagi. Kebiasaan apa saja yang tidak meningkatkan kegiatan organ tubuh, merendahkan pemikiran yang cerdas dan agung. Kebiasaan makan dan minum yang salah akan menyebabkan pemikiran dan perbuatan yang salah. Pemanjaan selera mendukung sifat kebinatangan dan menguasai pikiran dan roh.
“Hindarkan nafsu daging yang berperang melawan jiwa,” adalah bahasa Rasul Petrus. Banyak menganggap amaran ini hanya berlaku kepada orang yang amoral; tetapi itu mempunyai makna yang lebih luas. Itu melindungi kita dari setiap pemuasan selera dan nafsu yang berbahaya. Amaran ini menyangkut penggunaan bahan perangsang dan narkotik seperti teh, kopi, tembakau, alkohol dan morfin. Pemanjaan seperti ini dapat digolongkan di antara nafsu dan membawa pengaruh jahat terhadap tabiat moral. Makin cepat kebiasaan berbahaya ini dibentuk, maka semakin pasti mereka merendahkan standar kerohanian.
Engkau perlu bertarak dalam segala hal. Peliharalah kuasa pemikiran yang lebih tinggi, sehingga pertumbuhan sifat kebinatangan lebih lambat. Tidak mungkin bagimu menambah kekuatan rohani sementara selera dan nafsumu tidak dikuasai seluruhnya. Rasul yang diilhamkan itu berkata: “Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.”
Saudaraku, saya mohon kepadamu, bangkitlah dan biarkanlah pekerjaan Roh Allah mencapai lebih dalam bukan hanya di luar. Biarlah itu menyusup ke dalam mencapai titik tolak setiap kegiatan. Yang dikehendaki adalah prinsip yang teguh dan kekuatan dalam kegiatan rohani sebagaimana dalam hal-hal jasmani. Engkau masih kurang bersungguh-sungguh. Oh, betapa banyak yang rendah dalam ukuran kerohanian karena mereka tidak mau menyangkal hawa nafsu mereka! Saraf otak dilumpuhkan oleh karena makan terlalu banyak. Ketika orang yang seperti itu memasuki rumah Allah pada hari Sabat, mereka tidak dapat menahan rasa kantuk. Ajakan yang paling serius tak dapat membangkitkan intelek yang sudah tumpul dan lemah. Kebenaran dapat dihadapkan dengan perasaan yang mendalam tetapi itu tidak dapat merangsang pemikiran atau menerangi pengertian. Apakah mereka sudah belajar dalam segala perkara demi kemuliaan Allah?

Pengaruh Makanan Sederhana
Sekiranya semua orang yang mengaku menurut hukum Allah bebas dari kejahatan, jiwaku akan merasa lega; tetapi mereka bukanlah demikian. Ada beberapa yang mengaku memelihara semua hukum Allah, namun mereka bersalah dalam dosa perzinaan. Apakah yang saya dapat katakan untuk membangkitkan perasaan mereka yang sudah lumpuh? Prinsip moral yang dituruti dengan ketat menjadi satu-satunya pelindung jiwa. Sekaranglah waktunya apabila makanan itu haruslah yang paling sederhana. Janganlah menyuguhkan makanan daging kepada anak-anak. Pengaruhnya merangsang dan menguatkan nafsu yang tak terkendalikan, dan mempunyai kecenderungan untuk mematikan kuasa moral. Biji-bijian dan buah-buahan disediakan tanpa lemak, sedapat mungkin disediakan secara alamiah itulah makanan di atas meja orang-orang yang mengaku mempersiapkan diri untuk diubahkan dan dibawa ke surga. Lebih sederhana makanan lebih mudah dikuasai selera. Pemuasan tidak seharusnya dianggap menyimpang dari kesehatan fisik, intelek dan moral.
Pemanjaan nafsu yang tak terkendalikan akan menyebabkan banyak orang yang menutup mata terhadap terang kebenaran karena mereka takut melihat dosa yang mereka tidak mau tinggalkan. Semua orang dapat melihatnya kalau mereka mau. Jikalau mereka mau memilih kegelapan bukan terang, kejahatan mereka tidaklah lebih kecil. Mengapa laki-laki dan perempuan tidak membaca sehingga mereka mengerti akan hal ini, yang mempengaruhi kekuatan fisik, intelek dan moral? Allah telah memberikan kepadamu satu lingkungan untuk dipelihara dalam kondisi yang terbaik demi pekerjaan dan kemuliaan-Nya.

Pertarakan Menolong Penguasaan Moral
Kualitas makananmu itu tidaklah menyehatkan dan sederhana yang menciptakan jenis darah yang paling baik. Darah kotor pasti akan melemahkan kuasa intelek dan moral, dan membangkitkan serta menguatkan nafsumu yang tak terkendalikan itu. Tidak seorang pun di antara kamu yang dapat memperoleh makanan dengan tergesa-gesa; karena nilainya sama dengan kesehatan tubuhmu, kemakmuran jiwamu dan jiwa anak-anakmu.
Engkau menaruh makanan di atas meja makan yaitu makanan yang membebani alat pencernaan, membangkitkan hawa nafsu, melemahkan daya pikir dan moral. Makanan mewah dan makanan daging tidak berguna bagimu….
Saya memohon dengan sangat kepadamu demi Kristus, aturlah rumahmu dan hatimu. Biarlah kebenaran surga mengangkat dan menyucikan kamu, yaitu tubuh, jiwa dan roh. Hindarkanlah nafsu daging, yang berperang melawan jiwa. Saudara G, cara makanmu cenderung merangsang nafsu yang tak terkendalikan. Engkau tidak menguasai tubuhmu sebagaimana kewajibanmu supaya menyempurnakan kesucian dalam takut akan Allah. Pertarakan dalam hal makan harus dipraktikkan sebelum kamu menjadi seorang yang sabar.
Dunia bukanlah tolak ukur bagi kita. Memanjakan selera dengan makanan mewah dan bahan perangsang yang tidak alamiah menguatkan sifat kebinatangan dan menghambat pertumbuhan dan perkembangan moral. Anak-anak Adam tidak pernah dinasihati supaya mereka menjadi pemenang dalam pertempuran Kekristenan kecuali mereka memutuskan untuk melakukan pertarakan dalam segala hal. Kalau mereka melakukannya, mereka bukanlah seperti seorang yang meninju angin.
Jikalau orang Kristen menguasai tubuh dan menguasai nafsu dan selera di bawah kata hati nurani, dan menganggap itu sebagai suatu kewajiban yang terutang kepada Allah dan kepada sesamanya untuk menurut hukum yang mengatur hidup dan kesehatan, mereka akan memiliki berkat kekuatan fisik dan mental. Mereka akan memiliki kuasa moral di dalam pertempuran melawan Setan; dalam nama Dia yang telah mengalahkan selera demi mereka, mereka akan lebih besar daripada pemenang menurut anggapan mereka. Pertempuran ini terbuka bagi semua orang yang mau terlibat di dalamnya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar