MAKANAN
BERBUMBU, REMPAH-REMPAH, DSB….
BAGIAN I – REMPAH-REMPAH DAN
MAKANAN BERBUMBU
MAKANAN BERBUMBU
Bumbu, yang
begitu sering digunakan orang berbahaya bagi pencernaan.
Pada daftar
perangsang dan narkotik, ada digolongkan berbagai-bagai jenis makanan yang
semuanya ini digunakan sebagai makanan atau minuman yang meng-ganggu perut,
meracuni darah dan merangsang saraf. Penggunaannya adalah berbahaya. Manusia
mencari kenikmatan obat perangsang karena untuk sementara hasilnya memuaskan.
Tetapi selamanya ada reaksi. Penggunaan bahan perangsang non-alamiah selamanya
cenderung berkelebihan. Bahan itu merangsang kemerosotan dan kerusakan fisik.
Dalam abad yang
serba tergesa-gesa ini, lebih baik kalau makanan lebih kurang merangsang. Pada
hakikatnya makanan berbumbu rempah-rempah itu berbahaya. Lada, merica,
rempah-rempah, pala dan lain sebagainya, semuanya mempunyai persamaan sifat,
yaitu mengganggu perut dan memanaskan darah serta mengotorinya. Keadaan perut
seorang pemabuk yang parah menggambarkan pengaruh minuman keras yang
beralkohol. Keadaan yang sama parahnya diakibatkan oleh penggunaan makanan
berbumbu rempah-rempah. Tidak lama makanan yang biasa tidak lagi menarik
selera. Tubuh merasa kekurangan dan merindukan sesuatu yang lebih merangsang.
Bumbu dan
rempah-rempah yang digunakan dalam penyediaan makanan itu akan menolong
pencernaan seketika sama halnya teh, kopi dan minuman keras, dirasa menolong
orang yang sudah capek itu melakukan tugasnya. Setelah hilang pengaruhnya yang
seketika itu, maka pengaruhnya langsung menurun di bawah nol sebagaimana
meningkat di atas nol karena pengaruh bumbu rempah-rempah yang merangsang itu.
Tubuh melemah. Darah tercemar, dan akibatnya terjadilah peradangan.
Rempah-rempah
Mengganggu Perut dan Menimbulkan Keinginan Aneh
Meja makan kita
seharusnya diisi dengan makanan yang paling menyehatkan, bebas dari semua bahan
perangsang. Keinginan akan minuman keras itu ditimbulkan oleh penyediaan
makanan berbumbu kadar tinggi dan rempah-rempah. Bahan-bahan ini memanaskan
seluruh tubuh sehingga orangnya menginginkan minuman keras sebagai penenang. Dalam
perjalanan melintasi benua yang sering saya lakukan, saya tidak masuk restoran,
mobil makanan atau hotel, dengan alasan sederhana bahwa saya tidak dapat
memakan makanan yang disediakan di sana. Makanan itu berbumbu kadar tinggi
dengan garam, lada sehingga menimbulkan rasa haus yang tak dapat ditahan….
Bahan makanan itu mengganggu lapisan perut yang halus…. Begitulah makanan yang
biasanya disajikan di atas meja makan bergengsi, dan makanan ini diberikan pula
kepada anak-anak kecil. Makanan seperti itu menimbulkan kegelisahan dan juga
kehausan yang tak dapat dipuaskan oleh air…. Makanan haruslah disediakan
sesederhana mungkin, bebas dari bumbu berkadar tinggi dan rempah-rempah begitu
juga dari garam yang terlalu banyak.
|
Makanan haruslah disediakan sesederhana mungkin, bebas
dari bumbu berkadar tinggi dan rempah-rempah begitu juga dari garam yang
terlalu banyak.
|
Makanan mewah
seperti makanan berbumbu rempah-rempah, sop kental, kue dan makanan cuci mulut
disajikan kepada anak-anak kecil. Makanan berbumbu kadar tinggi ini mengganggu
perut, sehingga anak itu masih menginginkan bahan perangsang yang lebih kuat.
Bukan hanya menggoda selera untuk mengingini makanan, di mana anak-anak
dibiarkan makan secara bebas pada waktu makan, makanan yang tidak cocok dengan
kesehatan, tetapi mereka bahkan diizinkan makan di antara jam makan. Pada saat
anak-anak itu menginjak usia dua belas atau empat belas, mereka sudah mengidap
penyakit kejang perut.
Mungkin engkau
sudah pernah melihat gambar perut seorang pemabuk. Begitulah keadaan yang
ditimbulkan oleh rempah-rempah pedas, yang mengganggu. Dengan keadaan perut
yang demikian, orang itu mendambakan sesuatu yang lebih merangsang untuk
memenuhi keinginan selera, sesuatu yang lebih pedas, yang lebih merangsang
lagi.
Membuat
Wajah Pucat Pasi
Ada segolongan
orang yang mengaku mempercayai kebenaran. Mereka tidak menggunakan tembakau
melalui mulut atau hidung, teh, kopi, namun mereka bersalah memanjakan selera
dengan cara yang berbeda. Mereka menginginkan masakan daging berbumbu kadar
tinggi, sop kental. Selera mereka begitu diselewengkan sehingga tidak lagi
merasa puas, walaupun makanan daging, kecuali dimasak dengan bumbu kadar tinggi
yang merusak. Perut disalahgunakan. Alat pencernaan dibebani. Lagi pula perut
itu bekerja keras, untuk membuang beban yang dipaksakan kepadanya. Setelah
perut itu melakukan tugasnya, dia kewalahan; maka terlihatlah wajah yang pucat
pasi. Dalam hal ini banyak yang tertipu. Mereka rasa itu disebabkan oleh kurang
makan. Tanpa memberikan waktu istirahat kepada perut, mereka makan lagi, dan
memang untuk sementara hilang perasaan lemah itu. Bila selera lebih banyak
dirangsang, maka perut lebih mendesak untuk dipuaskan.
Mula-mula
rempah-rempah itu mengganggu lapisan perut yang lembut. Tetapi akhirnya merusak
kepekaan alamiah lapisan yang halus itu. Darah mendidih, nafsu kebinatangan
dibangunkan. Sementara itu kuasa moral dan intelek dilemahkan. Akhirnya dia
menjadi hamba nafsu. Kaum ibu harus mempelajari bagaimana menyedia-kan makanan
sederhana namun bergizi untuk disajikan kepada keluarga.
Orang-orang yang
sudah memanjakan selera dengan memakan makanan daging secara bebas, sop yang
berbumbu kadar tinggi dan berbagai jenis kue mewah dan cuci mulut, dia tidak lagi
dapat menikmati makanan sederhana bergizi yang menyehatkan. Seleranya
diselewengkan begitu rupa sehingga ia tidak lagi menginginkan makanan sehat
yang terdiri dari buah-buahan, roti sederhana dan sayuran. Mereka tidak perlu
mengharapkan akan menikmati pada mulanya makanan yang berbeda dari yang mereka
biasa makan.
Dengan semua
terang yang indah yang senantiasa dipancarkan kepada kita mengenai penyiaran
kesehatan, kita tidak bisa hidup sembrono atau bersikap masa bodoh, makan dan
minum seenaknya, dan memanjakan penggunaan bahan perangsang seperti narkotik
dan bumbu masak. Marilah kita memperhatikan kenyataan bahwa melalui kita banyak
jiwa-jiwa yang diselamatkan atau binasa. Maka akibatnya adalah fatal kalau kita
tidak menghubungkan diri dengan masalah pertarakan. Sangat penting bagi kita
melakukan tugas perorangan. Kita perlu memperoleh pengertian yang bijaksana
tentang apa yang harus kita makan dan minum, dan bagaimana kita hidup untuk
mempertahankan kesehatan. Semua akan nyata apakah kita mau menerima prinsip
reformasi kesehatan atau mengikuti langkah pemanjaan diri.
BAGIAN
II – SODA DAN BAKING POWDER
|
Roti yang dikembangkan
dengan soda atau bubuk pengembang kue seharusnya jangan berada di atas meja
makan. Campuran itu tidak cocok untuk perut.
|
Roti yang
dikembangkan dengan soda atau bubuk pengembang kue seharusnya jangan berada di
atas meja makan. Campuran itu tidak cocok untuk perut. Roti soda jenis mana pun
sulit dicerna perut. Roti tepung yang dibuat dari tepung gandum pecah kulit
enak dan menyehatkan kalau dicampur dengan air bersih dan susu. Tetapi sulit
mengajarkan kesederhanaan kepada jemaat kita. Kalau kami menganjurkan roti
permata, teman-teman kita berkata: “Oh, ya, kami tahu cara membuatnya.” Kami
sangat kecewa setelah roti seperti itu disajikan karena dikembangkan dengan
tepung bakar, atau dengan susu asam dan soda. Ini tidak menunjukkan bukti
reformasi. Tepung gandum pecah kulit, dicampur dengan air lembut dan susu, itu
dapat menghasilkan roti yang paling enak. Jikalau air itu bermineral tinggi,
gunakanlah lebih banyak susu, atau tambahkan sebutir telur kepada adonannya.
Roti seperti ini sebaiknya dibakar di dalam oven yang cukup panas dengan api
yang tetap konstan.
Dalam perjalanan
saya, saya melihat seluruh anggota keluarga menderita akibat dari masakan yang
kurang memadai. Roti manis enak yang menyehatkan jarang terlihat di meja makan
mereka. Roti soda dan roti yang berat dan sudah lengket akan merusak alat
pencernaan puluhan ribu orang.
Sebagian tidak
merasakan bahwa penyediaan makanan dengan baik adalah satu tugas keagamaan.
Karena itu mereka tidak mencoba bagaimana caranya. Mereka membiarkan roti itu
menjadi asam sebelum dibakar. Maka ditambahkanlah soda untuk menutupi
keteledoran juru masak itu, yang hasilnya hanya merusak perut manusia secara
keseluruhan.
Kita melihat
wajah berubah warna dan rintihan orang yang berpenyakit kejang perut ke mana
saja kita pergi. Apabila kita duduk di meja makan mereka lalu memakan makanan
yang dimasak dengan cara yang sama dalam berbulan-bulan atau bertahun-tahun
barangkali, saya heran mengapa orang ini masih hidup. Roti dan biskuit berwarna
kuning dengan campuran soda (saleratus). Dalam menggunakan soda mereka
melakukannya lebih mudah. Karena kelupaan, roti itu menjadi asam sebelum
dibakar. Untuk menutupi kejahatan ini, ditambahkan soda, sehingga roti itu,
tidak cocok sama sekali kepada perut manusia. Soda dalam bentuk apa pun
seharusnya jangan dimasukkan ke dalam perut, karena pengaruhnya mengerikan.
Soda itu memakan lapisan perut dan menimbulkan peradangan dan seringkali
meracuni seluruh tubuh. Sebagian berdalih: “Saya tidak dapat membuat roti yang
baik tanpa penggunaan soda atau bikarbonat.” Tentu saja engkau dapat kalau mau
belajar. Bukankah kesehatan keluargamu cukup bernilai untuk mendorong engkau
supaya berambisi belajar bagaimana cara memasak dan cara makan yang baik?
BAGIAN
III – GARAM
Janganlah makan
garam terlalu banyak. Hindarkan buah manisan berbumbu atau makanan berbumbu
rempah-rempah. Makanlah banyak buah-buahan, maka keinginan minum waktu makan
itu dapat dihilangkan.
Makanan
seharusnya disediakan begitu rupa agar menarik selera dan menyehatkan. Makanan
itu janganlah kehilangan sari yang diperlukan oleh tubuh. Saya menggunakan
sedikit garam dan selamanya menggunakannya, karena garam penting bagi darah,
dan pengaruhnya tidak melemahkan.
Satu kali Dr.
_____________ mengajar keluarga sesuai dengan reformasi kesehatan. Dia
berpandangan makanan itu lebih baik tanpa garam atau bahan lain membumbui
makanan. Saya memutuskan untuk mencobanya. Tetapi saya bertambah lemah sehingga
saya membuat perubahan. Kemudian aturan baru dimasukkan dengan sukses besar.
Saya beritahukan ini kepadamu karena saya tahu engkau sedang berada dalam
bahaya besar. Makanan harus disediakan begitu rupa supaya menyehatkan.
Janganlah makanan itu kehilangan sari dan zat yang dibutuhkan oleh tubuh….
Saya menggunakan
garam dan selalu menggunakannya. Menurut terang yang dipancarkan Allah kepada
saya, bahan ini bukan melemahkan, tetapi satu unsur penting untuk darah.
Mengapa dan bagaimana dalam hal ini saya tidak tahu, tetapi saya memberikan
petunjuk sesuai dengan yang saya dapat.
BAGIAN
IV – BUAH MANISAN PEDAS DAN CUKA
Dalam zaman yang
serba tergesa-gesa ini, makanan itu makin kurang merangsang, semakin baik.
Bumbu masak pada hakikatnya berbahaya. Lada, ketumbar, merica, buah manisan
pedas, dan jenis makanan yang merangsang, mengganggu perut dan mencemari darah
serta memanaskannya.
Satu kali saya
duduk di meja makan bersama beberapa anak di bawah usia dua belas tahun. Makanan
daging disajikan dengan limpahnya. Kemudian seorang gadis cilik yang kurus
meminta, buah manisan pedas. Maka diberikanlah kepadanya satu stoples chow-chow
berisi irisan mostar yang dibumbui dengan lada dan rempah-rempah, lalu gadis
itu memakannya dengan lahapnya. Anak itu terkenal karena selalu gelisah dan
mudah tersinggung. Bumbu pedas inilah yang membuat anak itu demikian
kondisinya.
Pastel daging
dan buah manisan pedas akan menurunkan kualitas darah. Jadi, makanan seperti
ini seharusnya jangan dimasukkan ke dalam perut manusia.
Alat pembuat
darah tidak dapat mengubah rempah-rempah, pastel daging, buah manisan pedas dan
daging hewan yang sakit menjadi darah yang baik.
Jangan makan
garam terlalu banyak. Hindarkan buah manisan pedas dan makanan berbumbu
rempah-rempah. Makanlah banyak buah-buahan. Gangguan rasa haus yang
menginginkan minum banyak waktu makan itu akan hilang.
Cuka
Salad yang
disediakan dengan minyak dan cuka, kalau dimakan akan menyebabkan fermentasi di
dalam perut. Makanan itu tidak dicerna, layu dan membusuk. Sebagai akibatnya,
darah tidak mendapat gizi, tetapi dipenuhi dengan kotoran, dan lever serta buah
pinggang mendapat kesulitan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar