Rabu, 08 Juli 2015

20. MAKANAN BERBUMBU, REMPAH-REMPAH, DSB….


MAKANAN BERBUMBU, REMPAH-REMPAH, DSB….


BAGIAN I – REMPAH-REMPAH DAN
MAKANAN BERBUMBU
Bumbu, yang begitu sering digunakan orang berbahaya bagi pencernaan.
Pada daftar perangsang dan narkotik, ada digolongkan berbagai-bagai jenis makanan yang semuanya ini digunakan sebagai makanan atau minuman yang meng-ganggu perut, meracuni darah dan merangsang saraf. Penggunaannya adalah berbahaya. Manusia mencari kenikmatan obat perangsang karena untuk sementara hasilnya memuaskan. Tetapi selamanya ada reaksi. Penggunaan bahan perangsang non-alamiah selamanya cenderung berkelebihan. Bahan itu merangsang kemerosotan dan kerusakan fisik.
Dalam abad yang serba tergesa-gesa ini, lebih baik kalau makanan lebih kurang merangsang. Pada hakikatnya makanan berbumbu rempah-rempah itu berbahaya. Lada, merica, rempah-rempah, pala dan lain sebagainya, semuanya mempunyai persamaan sifat, yaitu mengganggu perut dan memanaskan darah serta mengotorinya. Keadaan perut seorang pemabuk yang parah menggambarkan pengaruh minuman keras yang beralkohol. Keadaan yang sama parahnya diakibatkan oleh penggunaan makanan berbumbu rempah-rempah. Tidak lama makanan yang biasa tidak lagi menarik selera. Tubuh merasa kekurangan dan merindukan sesuatu yang lebih merangsang.
Bumbu dan rempah-rempah yang digunakan dalam penyediaan makanan itu akan menolong pencernaan seketika sama halnya teh, kopi dan minuman keras, dirasa menolong orang yang sudah capek itu melakukan tugasnya. Setelah hilang pengaruhnya yang seketika itu, maka pengaruhnya langsung menurun di bawah nol sebagaimana meningkat di atas nol karena pengaruh bumbu rempah-rempah yang merangsang itu. Tubuh melemah. Darah tercemar, dan akibatnya terjadilah peradangan.


Rempah-rempah Mengganggu Perut dan Menimbulkan Keinginan Aneh
Meja makan kita seharusnya diisi dengan makanan yang paling menyehatkan, bebas dari semua bahan perangsang. Keinginan akan minuman keras itu ditimbulkan oleh penyediaan makanan berbumbu kadar tinggi dan rempah-rempah. Bahan-bahan ini memanaskan seluruh tubuh sehingga orangnya menginginkan minuman keras sebagai penenang. Dalam perjalanan melintasi benua yang sering saya lakukan, saya tidak masuk restoran, mobil makanan atau hotel, dengan alasan sederhana bahwa saya tidak dapat memakan makanan yang disediakan di sana. Makanan itu berbumbu kadar tinggi dengan garam, lada sehingga menimbulkan rasa haus yang tak dapat ditahan…. Bahan makanan itu mengganggu lapisan perut yang halus…. Begitulah makanan yang biasanya disajikan di atas meja makan bergengsi, dan makanan ini diberikan pula kepada anak-anak kecil. Makanan seperti itu menimbulkan kegelisahan dan juga kehausan yang tak dapat dipuaskan oleh air…. Makanan haruslah disediakan sesederhana mungkin, bebas dari bumbu berkadar tinggi dan rempah-rempah begitu juga dari garam yang terlalu banyak.


Makanan haruslah disediakan sesederhana mungkin, bebas dari bumbu berkadar tinggi dan rempah-rempah begitu juga dari garam yang terlalu banyak.

Ada sebagian orang yang sudah memanjakan selera begitu rupa sehingga kalau tidak mencicipi makanan yang sesuai dengan seleranya, mereka tidak suka makan. Jikalau makanan berbumbu kadar tinggi dan rempah-rempah dihidangkan di hadapan mereka, mereka memaksa perut bekerja keras dengan cambuk panas ini. Perut itu diperlakukan begitu rupa sehingga dia tidak lagi menerima makanan yang tak berbumbu, dan yang tidak merangsang.
Makanan mewah seperti makanan berbumbu rempah-rempah, sop kental, kue dan makanan cuci mulut disajikan kepada anak-anak kecil. Makanan berbumbu kadar tinggi ini mengganggu perut, sehingga anak itu masih menginginkan bahan perangsang yang lebih kuat. Bukan hanya menggoda selera untuk mengingini makanan, di mana anak-anak dibiarkan makan secara bebas pada waktu makan, makanan yang tidak cocok dengan kesehatan, tetapi mereka bahkan diizinkan makan di antara jam makan. Pada saat anak-anak itu menginjak usia dua belas atau empat belas, mereka sudah mengidap penyakit kejang perut.
Mungkin engkau sudah pernah melihat gambar perut seorang pemabuk. Begitulah keadaan yang ditimbulkan oleh rempah-rempah pedas, yang mengganggu. Dengan keadaan perut yang demikian, orang itu mendambakan sesuatu yang lebih merangsang untuk memenuhi keinginan selera, sesuatu yang lebih pedas, yang lebih merangsang lagi.

Membuat Wajah Pucat Pasi
Ada segolongan orang yang mengaku mempercayai kebenaran. Mereka tidak menggunakan tembakau melalui mulut atau hidung, teh, kopi, namun mereka bersalah memanjakan selera dengan cara yang berbeda. Mereka menginginkan masakan daging berbumbu kadar tinggi, sop kental. Selera mereka begitu diselewengkan sehingga tidak lagi merasa puas, walaupun makanan daging, kecuali dimasak dengan bumbu kadar tinggi yang merusak. Perut disalahgunakan. Alat pencernaan dibebani. Lagi pula perut itu bekerja keras, untuk membuang beban yang dipaksakan kepadanya. Setelah perut itu melakukan tugasnya, dia kewalahan; maka terlihatlah wajah yang pucat pasi. Dalam hal ini banyak yang tertipu. Mereka rasa itu disebabkan oleh kurang makan. Tanpa memberikan waktu istirahat kepada perut, mereka makan lagi, dan memang untuk sementara hilang perasaan lemah itu. Bila selera lebih banyak dirangsang, maka perut lebih mendesak untuk dipuaskan.
Mula-mula rempah-rempah itu mengganggu lapisan perut yang lembut. Tetapi akhirnya merusak kepekaan alamiah lapisan yang halus itu. Darah mendidih, nafsu kebinatangan dibangunkan. Sementara itu kuasa moral dan intelek dilemahkan. Akhirnya dia menjadi hamba nafsu. Kaum ibu harus mempelajari bagaimana menyedia-kan makanan sederhana namun bergizi untuk disajikan kepada keluarga.
Orang-orang yang sudah memanjakan selera dengan memakan makanan daging secara bebas, sop yang berbumbu kadar tinggi dan berbagai jenis kue mewah dan cuci mulut, dia tidak lagi dapat menikmati makanan sederhana bergizi yang menyehatkan. Seleranya diselewengkan begitu rupa sehingga ia tidak lagi menginginkan makanan sehat yang terdiri dari buah-buahan, roti sederhana dan sayuran. Mereka tidak perlu mengharapkan akan menikmati pada mulanya makanan yang berbeda dari yang mereka biasa makan.
Dengan semua terang yang indah yang senantiasa dipancarkan kepada kita mengenai penyiaran kesehatan, kita tidak bisa hidup sembrono atau bersikap masa bodoh, makan dan minum seenaknya, dan memanjakan penggunaan bahan perangsang seperti narkotik dan bumbu masak. Marilah kita memperhatikan kenyataan bahwa melalui kita banyak jiwa-jiwa yang diselamatkan atau binasa. Maka akibatnya adalah fatal kalau kita tidak menghubungkan diri dengan masalah pertarakan. Sangat penting bagi kita melakukan tugas perorangan. Kita perlu memperoleh pengertian yang bijaksana tentang apa yang harus kita makan dan minum, dan bagaimana kita hidup untuk mempertahankan kesehatan. Semua akan nyata apakah kita mau menerima prinsip reformasi kesehatan atau mengikuti langkah pemanjaan diri.


BAGIAN II – SODA DAN BAKING POWDER


Roti yang dikembangkan dengan soda atau bubuk pengembang kue seharusnya jangan berada di atas meja makan. Campuran itu tidak cocok untuk perut.

Penggunaan soda atau bubuk pengembang kue dalam pembuatan roti itu tidak perlu karena berbahaya. Soda menimbulkan peradangan pada perut, dan seringkali meracuni seluruh tubuh. Banyak ibu yang berpikir bahwa mereka tidak dapat menyediakan roti dengan baik tanpa soda. Anggapan ini salah. Sekiranya mereka mau belajar metode yeng lebih baik, roti mereka akan lebih menyehatkan dan lebih enak sesuai selera aslinya.
Roti yang dikembangkan dengan soda atau bubuk pengembang kue seharusnya jangan berada di atas meja makan. Campuran itu tidak cocok untuk perut. Roti soda jenis mana pun sulit dicerna perut. Roti tepung yang dibuat dari tepung gandum pecah kulit enak dan menyehatkan kalau dicampur dengan air bersih dan susu. Tetapi sulit mengajarkan kesederhanaan kepada jemaat kita. Kalau kami menganjurkan roti permata, teman-teman kita berkata: “Oh, ya, kami tahu cara membuatnya.” Kami sangat kecewa setelah roti seperti itu disajikan karena dikembangkan dengan tepung bakar, atau dengan susu asam dan soda. Ini tidak menunjukkan bukti reformasi. Tepung gandum pecah kulit, dicampur dengan air lembut dan susu, itu dapat menghasilkan roti yang paling enak. Jikalau air itu bermineral tinggi, gunakanlah lebih banyak susu, atau tambahkan sebutir telur kepada adonannya. Roti seperti ini sebaiknya dibakar di dalam oven yang cukup panas dengan api yang tetap konstan.
Dalam perjalanan saya, saya melihat seluruh anggota keluarga menderita akibat dari masakan yang kurang memadai. Roti manis enak yang menyehatkan jarang terlihat di meja makan mereka. Roti soda dan roti yang berat dan sudah lengket akan merusak alat pencernaan puluhan ribu orang.
Sebagian tidak merasakan bahwa penyediaan makanan dengan baik adalah satu tugas keagamaan. Karena itu mereka tidak mencoba bagaimana caranya. Mereka membiarkan roti itu menjadi asam sebelum dibakar. Maka ditambahkanlah soda untuk menutupi keteledoran juru masak itu, yang hasilnya hanya merusak perut manusia secara keseluruhan.
Kita melihat wajah berubah warna dan rintihan orang yang berpenyakit kejang perut ke mana saja kita pergi. Apabila kita duduk di meja makan mereka lalu memakan makanan yang dimasak dengan cara yang sama dalam berbulan-bulan atau bertahun-tahun barangkali, saya heran mengapa orang ini masih hidup. Roti dan biskuit berwarna kuning dengan campuran soda (saleratus). Dalam menggunakan soda mereka melakukannya lebih mudah. Karena kelupaan, roti itu menjadi asam sebelum dibakar. Untuk menutupi kejahatan ini, ditambahkan soda, sehingga roti itu, tidak cocok sama sekali kepada perut manusia. Soda dalam bentuk apa pun seharusnya jangan dimasukkan ke dalam perut, karena pengaruhnya mengerikan. Soda itu memakan lapisan perut dan menimbulkan peradangan dan seringkali meracuni seluruh tubuh. Sebagian berdalih: “Saya tidak dapat membuat roti yang baik tanpa penggunaan soda atau bikarbonat.” Tentu saja engkau dapat kalau mau belajar. Bukankah kesehatan keluargamu cukup bernilai untuk mendorong engkau supaya berambisi belajar bagaimana cara memasak dan cara makan yang baik?

BAGIAN III – GARAM
Janganlah makan garam terlalu banyak. Hindarkan buah manisan berbumbu atau makanan berbumbu rempah-rempah. Makanlah banyak buah-buahan, maka keinginan minum waktu makan itu dapat dihilangkan.
Makanan seharusnya disediakan begitu rupa agar menarik selera dan menyehatkan. Makanan itu janganlah kehilangan sari yang diperlukan oleh tubuh. Saya menggunakan sedikit garam dan selamanya menggunakannya, karena garam penting bagi darah, dan pengaruhnya tidak melemahkan.
Satu kali Dr. _____________ mengajar keluarga sesuai dengan reformasi kesehatan. Dia berpandangan makanan itu lebih baik tanpa garam atau bahan lain membumbui makanan. Saya memutuskan untuk mencobanya. Tetapi saya bertambah lemah sehingga saya membuat perubahan. Kemudian aturan baru dimasukkan dengan sukses besar. Saya beritahukan ini kepadamu karena saya tahu engkau sedang berada dalam bahaya besar. Makanan harus disediakan begitu rupa supaya menyehatkan. Janganlah makanan itu kehilangan sari dan zat yang dibutuhkan oleh tubuh….
Saya menggunakan garam dan selalu menggunakannya. Menurut terang yang dipancarkan Allah kepada saya, bahan ini bukan melemahkan, tetapi satu unsur penting untuk darah. Mengapa dan bagaimana dalam hal ini saya tidak tahu, tetapi saya memberikan petunjuk sesuai dengan yang saya dapat.

BAGIAN IV – BUAH MANISAN PEDAS DAN CUKA
Dalam zaman yang serba tergesa-gesa ini, makanan itu makin kurang merangsang, semakin baik. Bumbu masak pada hakikatnya berbahaya. Lada, ketumbar, merica, buah manisan pedas, dan jenis makanan yang merangsang, mengganggu perut dan mencemari darah serta memanaskannya.
Satu kali saya duduk di meja makan bersama beberapa anak di bawah usia dua belas tahun. Makanan daging disajikan dengan limpahnya. Kemudian seorang gadis cilik yang kurus meminta, buah manisan pedas. Maka diberikanlah kepadanya satu stoples chow-chow berisi irisan mostar yang dibumbui dengan lada dan rempah-rempah, lalu gadis itu memakannya dengan lahapnya. Anak itu terkenal karena selalu gelisah dan mudah tersinggung. Bumbu pedas inilah yang membuat anak itu demikian kondisinya.
Pastel daging dan buah manisan pedas akan menurunkan kualitas darah. Jadi, makanan seperti ini seharusnya jangan dimasukkan ke dalam perut manusia.
Alat pembuat darah tidak dapat mengubah rempah-rempah, pastel daging, buah manisan pedas dan daging hewan yang sakit menjadi darah yang baik.
Jangan makan garam terlalu banyak. Hindarkan buah manisan pedas dan makanan berbumbu rempah-rempah. Makanlah banyak buah-buahan. Gangguan rasa haus yang menginginkan minum banyak waktu makan itu akan hilang.


Cuka
Salad yang disediakan dengan minyak dan cuka, kalau dimakan akan menyebabkan fermentasi di dalam perut. Makanan itu tidak dicerna, layu dan membusuk. Sebagai akibatnya, darah tidak mendapat gizi, tetapi dipenuhi dengan kotoran, dan lever serta buah pinggang mendapat kesulitan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar